Bagaimana cara me-manage ekspektasi? Sebuah panduan untuk adik-adik

Bacaan 2 menit

Sebagian besar kesedihan yang mungkin adik alami biasanya terjadi karena ekspektasi tidak sesuai realita. Contohnya, adik demen banget nih sama seseorang yang cantik/ganteng banget, dia baik, duh pokoknya green flag semua deh. Tapi kenyataanya, ketika adik menyatakan perasaan adik, dia ternyata tidak punya perasaan yang sama. Hal ini pasti ngebuat adik sedih dan berujung pada banyak pertanyaan ke diri sendiri. Tapi ternyata, salah satu faktor yang paling berpengaruh pada skenario ini adalah ekspektasi adik sendiri.

Terus bagaimana caranya me-manage ekspektasi? Berikut ada beberapa strategi yang bisa membantu adik,

Self-awareness

Apasih self-awareness itu? Jadi ini adalah sebuah kemampuan dimana adik bisa memahami diri adik sendiri secara keseluruhan, mulai dari sifat, emosi, perasaan, karakter, dan cara adaptasi pada lingkungan pada diri adik sendiri. Jadi langkah awalnya adalah memahami ekspektasi kita sendiri. Dengan memahami diri sendiri, kita akan tau apakah ekspektasi kita termasuk terlalu pesimis atau optimis. Contoh, ketika adik berulang tahun, adik pasti menganggap hari ini adalah hari yang spesial untuk adik. Adik berharap ada orang yang memberikan ucapan, kado atau kejutan lainnya. Balik lagi ke pemahaman diri adik sendiri, pesimisnya adalah gaada yang mengucapkan atau bahkan inget ultah adik. Optimisnya adalah pasti ada yang ngucapin dan ada yang memberikan surprise. 

Komunikasi yang terbuka

Dengan adanya komunikasi yang jelas dan jujur, hal ini akan semakin memudahkan adik untuk membuat orang lain mengerti ekspektasi adik terhadap mereka. Tapi perlu diingat, ini bukan tentang "Aku" atau "Dia". Ketika adik bereskpektasi terhadap orang lain, adik juga harus mendengarkan ekspektasinya dia terhadap adik. Biasanya kesalahpahaman seringkali terjadi karena ekspektasi yang tidak dikomunikasikan atau tidak sesuai.

Fleksibilitas

Yah namanya idup, dik. Bener bener ga bisa diprediksi. Ketika keadaan tiba-tiba berubah, adik harus bisa beradaptasi dan fleksibel terhadap kenyataan yang terjadi. Karena hidup tidak dapat diprediksi dan tidak selalu berjalan sesuai rencana, bersikap fleksibel bisa mengurangi rasa kecewa yang timbul karena adanya perubahan yang tiba-tiba.

Me-manage reaksi

Reaksi terhadap sesuatu yang tidak sesuai ekspektasi juga harus di-manage, dik. Daripada bereaksi secara impulsif, baiknya adik tarik nafas, menilai situasi, dan berusaha merespons dengan konstruktif. Pada beberapa kasus atau skenario lain, adik bisa mencari solusi alternatif.

Belajar dari pengalaman

Setiap situasi yang pernah adik hadapi, baik itu sesuai ekspektasi atau tidak, memberikan adik kesempatan untuk belajar dan berkembang. Dari situasi yang sudah pernah terjadi, adik bisa belajar dari pengalaman dan menjadikannya acuan untuk me-manage ekspektasi di situasi yang akan datang.

Perlu diingat kembali, kalo me-manage ekspektasi adalah skill yang harus dikemmbangkan dari waktu ke waktu dan tidak bisa dipelajari secara instan. Ini merupakan cara untuk mencari keseimbangan antara optimisme dan realisme dan bagaimana cara beradaptasi terhadap dunia yang penuh dengan ketidakpastian ini.

Untuk penutup, ini ada sebuah video yang bagus mengenai ekspektasi,


Ditulis oleh:
Jamal Robot
Bacaan 2 menit
Dilihat :
110

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait