Mana yang lebih yahud? Masak atau Beli Makan di Luar?

Bacaan 4 menit

Yap, selamat datang bapack2, ibuck2, kakaks2, serta adiks2 semwa yang dicintai keluarganya masing-masing!

Sekali lagi selamat karena dengan membaca artikel ini saya sangat yakin kalau ini adalah langkah awal yang baik untuk klean semua! Ya walaupun kasarnya banyak yang udah ngeh, tapi masih banyak juga yang belum. Anggap aja sebagai bahan pertimbangan ya...

Kenapa saya bisa bilang begitu? Jadi, jika boleh saya membagikan pengalaman, beberapa bulan ini saya yang sekarang tinggal berdua hanya dengan adik ini suka keluar buat cari makan a.k.a kulineran keliling, mencoba tempat sana-sini yang dirasa mwaknyus buat di coba (karena sekeluarga memang suka icip-icip), OOT sedikit, saking sukanya kulineran sampai jurusan kuliah pun saya ambil Kuliner juga. 

Wajar sekali bukan untuk manusia-manusia bumi modern seperti kita? Konsumtif, yang penting hasrat lidah dan perut terpenuhi tapi mementingkan efisiensi waktu? Kalau di pikir pun untuk ukuran anak kos yang diisi dengan dua orang saja sepertinya jauh lebih hemat jika beli di luar. Kita gak perlu pusing mau masak apa hari ini, cucian piring numpuk, harus beli gas, dan lain sebagainya! Saya tuh orangnya sebenernya gak suka pusing jadi ya itu, kalau diajak makan di luar hayuk-hayuk aja.

 

Sampai di satu masa, tepatnya sampai tulisan ini saya buat, dimana ekonomi sulit, keuangan menipis, saya jadi menyadari satu hal. Bahwa pola pikir konsumtif saya ini lama-lama menggerogoti diri. Ini gak sehat, ini gak baik buat saya. Jadi, apa saja faktor utama yang menggerogoti saya? 

Pertama, Keuangan. Jujur saya merasa pengeluaran saya habis hanya untuk makanan. Padahal belum sebulan dan voila! Uang sekejap habis (mungkin faktor lainnya juga karena pengaturan keuangan dan hasrat makan saya yang buruk, entahlah). 

Kedua, Kesehatan. Karena saya sering beli makanan dan jajan di luar, saya merasa kesehatan saya mengkhawatirkan, saya sering sakit tenggorokan, sariawan, panas dalam, pokoknya benar-benar gampang sekali sakit, dalam beberapa bulan bisa di hitung saya tepar tergolek di kasur dan tidak bisa masuk kerja karena sakit (saya memang lumayan sensitif dengan beberapa bahan dan kehigienisan makanan). Bahkan Berat badan saya sulit terkontrol dan pernah naik sampai 6 kg yang menyebabkan sering kelelahan (kurang olah raga juga memungkinkan, mager everywhere, everyday, everything! *Jangan ditiru!)

Dan akhirnya saya dan adik mulai mencoba untuk mengurangi jajan di luar dan lebih sering masak di rumah (mostly karena lagi boncos aja), dan sudah berjalan beberapa bulan ini. Disclaimer sedikit ini bukan berarti saya tidak jajan sama sekali ya di luar dan mengharuskan klean stop buat jajan, tapi benar-benar mengurangi dan menahan untuk tidak jajan di luar.

Hasilnya? 

Saya kaget, percaya atau tidak, yang dulu biasanya uang 100 ribu standarnya untuk sekali makan di luar/pesan online itu terasa wajar saja, ini dengan 100 ribu bisa untuk saya dan adik makan seminggu! Saya benar-benar mau menangis ketika mencoba hitung-hitungan dengan adik saya soal ini, mikir kayak kenapa gak dari dulu aja sadarnya gitu, dengan uang 100 ribu saya bisa beli kentang, wortel, jagung, timun, tahu, tempe, fillet dada ayam, bakso, sosis, cabai, bawang, telur! Walaupun menurut saya tempat saya membeli mereka semua bisa di bilang masih terlalu mahal (karena kalau di pasar induk bisa lebih murah dan lebih banyak lagi dapatnya), tapi ini sudah lebih dari cukup buat saya dan adik. Ya, memang sih 100 ribu itu tidak termasuk gas, beras dan lainnya tapi kalau di pikir ini jauh lebih murah daripada kita beli di luar, karena gas (saya pakai tabung 3 kg) habisnya bisa 1 bulan kalau sering di gunakan, itu juga hanya lebih-kurang 20 ribuan untuk isi ulangnya, beras 5 kg cukup untuk sebulan lebih untuk kita makan! (Ini buat yang gak terlalu banyak makan nasi ya, yang ibarat kalau makan sebungkus nasi bungkus padang tuh dibagi buat pagi-siang-malam).

 

Kalau boleh di rangkum, berikut Kelebihan (Strength) dan Kekurangan (Weakness) dari memasak dan membeli makan di luar.

• Masak (Strength):

1. Lebih Irit, sedikit-banyak jadi tahu tentang pengeluaran sebenarnya,

 2. Gizi terjamin (karena kita tau apa yang kita masak), porsi lebih banyak, dan sesuai selera (seasoning bisa menyesuaikan),

 3. Investasi kesehatan buat hari tua.

• Masak (W):

 1. Kalau tidak pandai me-manage selama proses pembuatan makanan dan tidak familiar dengan dapur akan memakan waktu lama,

 2. Tidak cepat saji/kurang efisien (artinya gak bisa di lakukan kalau sudah sangat kelaparan atau tiba-tiba maag kambuh),

 3. Cucian piring banyak.

 

• Beli di Luar (S): 

 1. Cepat & Efisien (bayar langsung makan, ada juga yang makan dulu baru bayar)

 2. Mau apa? Semua ada! (Kalau lagi pengen sesuatu, ya tinggal pesan online atau langsung datang ke tempat dan milih makanan yang kita mau),

 3. Gak cuci piring, dapur aman, anak kos juga terselamatkan, bisa membantu penjual makanan juga.

• Beli di Luar (W):

 1. Kita gak tau mutu makanan yang sebenarnya (ini gak semua tempat sih tapi beberapa kan ada yang kebersihan tempat dan proses pemasakan makanannya "nyeleneh", jadi kita gak benar-benar tau kecuali tempat makannya ada open kitchen yang kita bisa tau proses pembuatan makanannya gimana),

 2. Beberapa makanan lumayan "pricey" dan gak bikin kita puas dalam artian kenyang karena sudah di porsikan sesuai kebijakan masing-masing tempat,

 3. Kadang kalau lagi coba-coba kulineran ke tempat populer di beberapa tempat ternyata gak sesuai selera kita, suka lapar mata, mau ini-itu tapi nantinya entah kadang di luar ekspektasi ataupun mubadzir karena kebanyakan yang di beli dan akhirnya boncos (ini bener-bener terjadi sama saya yang susah nahan diri di depan makanan, apalagi pas bulan puasa beuh!).

 

Ya, kurang lebih itu sepenggal kelebihan dan kekurangan dari memasak dan beli makan di luar menurut apa yang saya alami dan rasakan. Kalau ada yang mau nambahin boleh banget, bisa coba kasih tau di kolom komen aja yaaa...
Dannn, bagaimana menurut kleans setelah baca artikel dari pengalamanku ini? Masih tetap ingin mempertahankan kehidupan konsumtif membabi buta? Atau sedikit-sedikit mau mencoba untuk mengubah mindset dan perlahan tapi pasti memilih untuk memasak di rumah? 

Sekian dan terima gaji! ^v^

Ditulis oleh:
Zanna Azola
Bacaan 4 menit
Dilihat :
320

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait