Cara Memaknai Masa Tua dari Buku How to Grow Old

Bacaan 3 menit

Kadang, kalau lagi diem saya suka tiba-tiba kepikiran soal menua. Kaya hidup di masa muda tuh emang enak banget, ya Pak. Semakin nambah umur, semakin banyak yang dikhawatirkan. Dari mulai soal fisik yang gak sekuat pas muda sampe soal kematian.

Sampe di suatu hari, saya nemu buku judulnya, "How to Grow Old". Cakep banget, Pak bukunya. Meskipun buku ini umurnya udah tua banget, tapi masih relate sama kehidupan sekarang. Gegara buku ini, saya jadi mikir kalau ternyata masa tua ternyata gak seburuk itu.

Jadi, sekarang saya mau sharing yang saya dapet, ya Pak.

 

1. Orang tua melemah secara fisik. Tapi anak muda pun juga punya kekurangan, jadi gak papa.

Banyak orang menganggap kalau orang tua tuh gak bisa apa-apa lagi. Soalnya udah tua. Fisiknya lemah. Ditambah lagi, kita gak punya banyak informasi soal "menjadi tua". Makanya banyak yang mengira kalau masa tua gak lebih baik dari masa muda.

Tapi, kalau dipikir lagi, sebenernya setiap masa juga punya kelemahannya. Gak cuma masa tua. 

Orang tua emang punya fisik yang lebih lemah dari anak muda. Tapi di sisi lain, anak muda juga punya kekurangan. Kaya pengalaman hidup yang lebih sedikit atau sikap yang impulsif.

Jadi, ganapa, Pak. Kita punya kekurangan saat jadi tua. Tapi sama kaya anak muda, kita juga punya kelebihan-kelebihan baru.

 

2. Orang tua masih bisa berkarya, khususnya yang melibatkan kebijaksanaan dan kearifan.

Berkurangnya kekuatan fisik, gak bikin orang tua jadi gak bisa berkarya lagi. Mungkin setelah menua, kita gak bisa berkarya di bidang yang membutuhkan kekuatan fisik. Tapi, orang tua punya 2 kekuatan utama: kebijaksanaan dan kearifan.

Seiring usia yang bertambah, sebagai orang tua, kita tetap bisa berkarya. Khususnya yang sifatnya berbagi kebijaksanaan dan kearifan. Kaya nulis buku, berbagi pandangan hidup, atau jadi penasihat.

 

3. Orang tua dihormati karena masa mudanya, bukan karena keriput dan ubannya.

Saat kita menua, keriput dan uban kita mungkin akan bertambah. Atau malah jadi botak. Tapi bukan itu yang bikin kita disayang dan dihormati sama anak-anak muda. Orang-orang tua dihormati dari kebijaksanaan dan kearifan yang dimiliki.

Kalo kita pengen jadi orang tua yang berkarisma, kita mesti siapin dari sekarang. Gak cuma nyiapin dana pensiun aja. Kita kudu nyiapin juga kebaikan dan pengalaman sebanyak-banyaknya.

 

4. Pertambahan usia adalah hal yang layak disyukuri, sebab gak semua orang bisa mencapai usia tua.

Kalimat ini bikin saya mikir sekaligus lega. Kalau dipikir lagi, gak banyak orang yang bisa mencapai usia tua ya, Pak. Jadi, kalau suatu hari nanti kita bisa mencapai usia tua, bukannya kita mesti bersyukur?

Soalnya kita bisa menjalani hidup yang lebih panjang dari orang lain. Mungkin ada kejadian berat yang bikin pengen nyerah, mungkin kita pernah ngalamin kecelakaan dan selamat, mungkin kita pernah sakit lalu sembuh, dan hal-hal sederhana lain yang layak disyukuri.

Karena dengan berbagai lika-liku itu, kita masih hidup. Masih bisa berumur panjang dan bisa berbagi sama orang-orang lain.

 

5. Kematian bukanlah hal yang perlu ditakuti ketika kita sudah menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.

Dan akhirnya, akhir dari kehidupan manusia ya kematian. Setelah menjalani hidup di masa muda, kemudian masa tua, akhirnya kita akan meninggal juga. Tapi seharusnya, kematian tidak lagi jadi hal yang menakutkan. Karena kita udah menjalani hidup dengan baik.

Kalau kata bukunya, kematian adalah penutup yang menyenangkan. Ibarat buku atau penampilan teater, setelah semua babak kehidupan, kita sampai di penghujung cerita dengan tenang dan damai.

 

Semoga nantinya kita bisa menjadi orang tua yang arif dan bijaksana ya, Pak. Lalu bisa berbagi ke orang yang lebih muda, dan menyelesaikan kisah hidup kita dengan baik.

Ditulis oleh:
Runa Aviena
Bacaan 3 menit
Dilihat :
247

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait