Bisa masuk ke perusahaan favorit dan udah diidam-idamkan sama adik, pasti senengnya bukan main. Tapi mungkin ada satu momen yang sering bikin adik nyesal setelah keterima kerja. Bukan karena kerjaannya berat atau karena bosnya galak, tapi karena gajinya ternyata lebih kecil dari yang diharapkan. Padahal proses interviewnya panjang. Udah lolos HR, lolos user, bahkan sampai tahap final. Begitu offering letter keluar baru sadar, “Lho kok segini?” Masalahnya sering bukan di perusahaannya, tapi di cara adik riset dan nego gaji sejak awal proses interview. Banyak orang datang ke interview cuma modal, “Ya nanti lihat aja gimana.” Padahal urusan gaji ini bukan soal gengsi, tapi soal strategi. Kalau adik datang ke interview tanpa riset dan tanpa strategi nego, kemungkinan besar angka gaji yang keluar ya angka aman dari perusahaan, bukan angka terbaik buat adik. Nah, biar kejadian kayak gitu gak terulang, ini beberapa cara yang bisa adik lakukan supaya gaji yang bapak dapet sesuai ekspektasi sejak offering letter keluar.
Riset Range Gaji Posisi yang Dilamar
Kesalahan paling umum pas interview adalah datang tanpa tahu harga diri sendiri di pasar kerja. Padahal sebelum interview, adik harus tahu dulu range gaji posisi tersebut, di industri yang sama dengan pengalaman yang setara. Sekarang sebenarnya riset kayak begini pan gampang. Adik bisa cek di Glassdoor, Jobstreet Salary Report, LinkedIn Salary Insight, Forum atau komunitas industri. Kadang bahkan di Twitter atau Reddit orang juga sering share range gaji. Dari situ adik bisa dapat gambaran, misal posisi Product Manager range di Jakarta, dari junior, mid-level, sampe senior dengan data kayak gini adik jadi punya patokan realistis. Adik juga jadi tahu, apakah ekspektasi adik terlalu tinggi, atau malah terlalu rendah. Perlu diinget kalo adik nyebut angka terlalu rendah, perusahaan jarang bakal naikin sendiri.
Jangan Sebut Angka Terlalu Cepat
Di interview sering ada pertanyaan klasik, “Ekspektasi gaji berapa?” Nah ini jebakan kecil yang sering bikin orang salah langkah. Banyak yang langsung jawab, “Ya sekitar 10 juta pak.” Padahal perusahaan sebenarnya siap bayar 15 juta. Akhirnya apa yang terjadi? Perusahaan bakal senang sekali, karena mereka bisa bayar lebih murah dari budget mereka. Strategi yang lebih aman biasanya, balikin dulu ke perusahaan. Contohnya, “Kalau boleh tahu, untuk posisi ini biasanya range gajinya di kisaran berapa ya?” Atau bisa juga jawab lebih diplomatis, “Saya terbuka untuk diskusi, tapi berdasarkan riset saya untuk posisi ini biasanya berada di kisaran X sampai Y.” Cara ini nunjukkin dua hal, adik udah riset dan nggak asal nyebut angka. HR biasanya lebih menghargai kandidat yang datang dengan data.
Tentukan Angka Minimum yang Adik Mau
Sebelum interview, adik harus jujur sama diri sendiri. Tentuin tiga angka penting, angka ideal, angka yang adik pengen. Angka realistis, yang masih oke buat adik. Angka minimum, angka yang kalau di bawah ini, adik mending gak ambil. Dengan struktur kayak gini, adik jadi gak gampang panik pas negosiasi. Karena adik udah tahu batasnya. Banyak orang gagal nego gaji karena dia sendiri belum tahu angka yang dia mau.
Jangan Fokus Gaji Pokok Saja
Ini yang sering dilupain. Kadang orang cuma lihat gaji pokoknya doang, padahal kompensasi kerja biasanya terdiri dari banyak hal, dari gaji pokok, bonus tahunan, bonus kinerja, tunjangan transport, tunjangan makan, BPJS, asuransi, THR, sampe insentif. Kadang ada perusahaan yang gaji pokoknya kelihatan kecil, tapi bonusnya besar. Artinya total kompensasi bisa jauh lebih besar. Jadi sebelum menilai offering letter, adik harus lihat total package, bukan cuma satu angka.
Gunakan Pengalaman sebagai Alasan Nego
Negosiasi yang bagus harus pakai alasan. Contoh alasan yang bisa dipakai bisa dari pengalaman kerja, skill spesifik, sertifikasi, track record, dan prestasi di pekerjaan sebelumnya. Contoh:
“Di pekerjaan sebelumnya saya memimpin tim berisi 8 orang dan berhasil meningkatkan revenue sekitar 30%. Dengan pengalaman tersebut, saya berharap kompensasi bisa disesuaikan.”
HR lebih mudah nerima negosiasi yang punya dasar jelas, dik. Perlu diinget juga kalo negosiasi itu normal. Di Indonesia masih banyak yang ngerasa nego gaji takut dibilang nggak tau diri. Padahal di dunia profesional, negosiasi itu hal yang normal. HR bahkan sering mengharapkan kandidat buat nego. Karena mereka tahu kandidat yang bagus biasanya juga tahu nilai dirinya. Nada kalimat juga penting. Bukan menuntut, tapi lebih ke ngajak diskusi.
Kasih Jeda buat HR Merespons Pas Lagi Negosiasi
Ini teknik yang sering dipakai di dunia bisnis, namanya strategic silence. Setelah adik nyebut angka, jangan langsung panik dan ngomong lagi. Diam sebentar, biarin HR merespons. Kadang orang terlalu cepat nurunin angka karena gugup. Diam itu justru ngasih tekanan kecil dalam negosiasi. Perlu diinget juga, kalo nggak semua perusahaan punya kemampuan gaji yang sama. Kayak startup kecil, udah pasti beda sama perusahaan besar. Perusahaan lokal, beda sama perusahaan multinasional. Makanya penting buat riset juga tentang perusahaan.
Kalau Offering Letter Terlalu Rendah, Masih Bisa Nego
Banyak orang ngira kalau offering letter udah keluar berarti udah final. Padahal belum tentu. Justru di tahap ini biasanya masih ada ruang diskusi. HR biasanya bakal diskusi lagi sama manajemen, nawarin alternatif, atau ngejelasin keterbatasan budget. Yang penting adik tetap profesional dan sopan. Jangan terima offer karena takut kehilangan, keputusan kerja bukan cuma soal dapat kerja. Tapi juga soal kompensasi yang fair, gimana adik dihargai, dan pertumbuhan yang jelas. Kalau dari awal udah ngerasa nggak dihargai, biasanya rasa itu bakal kebawa terus selama kerja.
Perusahaan punya budget, adik punya kebutuhan dan nilai diri. Kalau dua-duanya ketemu di angka yang adil, kerja pun jadi lebih nyaman.
