Pernah nggak, Pak, lagi nongkrong terus denger cerita orang kaya yang pengin punya jam tangan puluhan miliar, koleksi mobil yang nggak pernah dipakai, atau bela-belain terbang ribuan kilometer cuma buat ngopi di satu kafe kecil yang kopinya katanya beda? Pasti bapak langsung mikir, "Lah ini orang kaya kurang kerjaan amat". Tapi, Pak. Ternyata keinginan-keinginan yang kelihatannya “aneh” itu bukan sekadar gaya-gayaan. Ada pola psikologis, sosial, bahkan ilmiahnya. Dan menariknya, pola ini justru sering muncul setelah semua kebutuhan dasar hidup beres.
Saat semua kebutuhan dasar beres, otak cari tantangan baru
Manusia bakal bergerak naik level berdasarkan kebutuhan. Waktu hidup masih soal makan, bayar cicilan, dan sekolah anak, keinginan kita lurus-lurus aja, yang penting tetep stabil, aman, dan cukup. Tapi ketika semua udah kelar, kayak urusan rumah aman, tabungan cukup sampe tujuh turunan, hidup relatif terkendali. Nah, otak manusia nggak berhenti bekerja, dia mulai nanya, “Terus, apa lagi?” Di fase ini, keinginan bergeser dari butuh jadi rasa ingin. Dan keinginan ini nggak selalu masuk logika orang yang masih berjuang di level kebutuhan dasar. Maka lahirlah keinginan-keinginan yang tampak aneh kayak beli barang super spesifik, pengalaman super niche, atau hal-hal yang secara fungsi, ya nggak nambah apa-apa. Bukan karena mereka aneh, Pak. Tapi karena otaknya udah pindah medan permainan.
Uang banyak bikin dopamin cepat bosan
Otak kita pan bekerja dengan sistem yang namanya dopamin. Setiap kali dapat sesuatu yang dipengen, dopamin naik, kita jadi senang. Tapi masalahnya, otak pan cepat adaptasinya. Buat kebanyakan orang, beli motor baru aja udah bikin bahagia berbulan-bulan. Tapi buat orang kaya, beli mobil mewah ke-10? Dopaminnya naik sebentar, lalu turun lagi. Akhirnya, mereka butuh stimulus yang lebih unik, lebih langka, lebih ekstrem supaya sensasi senangnya kerasa lagi. Di sinilah keinginan mulai keliatan aneh di mata orang lain. Bukan karena mereka kurang bersyukur, tapi karena ambang rangsang otaknya udah jauh lebih tinggi.
Keinginan aneh sering kali soal identitas, bukan barang
Banyak orang ngira orang kaya beli barang mahal buat pamer. Padahal, dalam banyak kasus, barang-barang tersebut mencirikan identitas diri. Ketika harta udah bukan masalah, hidup berubah jadi mempertanyakan bapak ini siapa, mau dikenal sebagai apa, dan apa yang bikin bapak beda dari yang lain. Makanya ada yang rela koleksi barang super langka, bangun rumah dengan konsep absurd, atau menekuni hobi yang kelihatannya nggak ada gunanya. Semua itu cara mereka menceritakan siapa diri mereka, tanpa harus ngomong. Barangnya mungkin aneh. Tapi ceritanya penting buat mereka.
Saat keinginan bisa dipenuhi seketika
Di situlah rasa kontrol yang sangat tinggi terhadap hidup bisa dicapai. Otak manusia ini suka banget perasaan berkuasa atas pilihan. Kalau mau sesuatu, bisa langsung diwujudkan, ada perasaan yang susah buat diungkapin. Masalahnya, ketika hampir semua keinginan bisa dipenuhi, yang tersisa hanyalah keinginan-keinginan yang jarang dipunya sama orang lain, susah buat dicapai, atau kerasa nggak masuk akal buat banyak orang. Keinginan ini yang jadi alat pembuktian ke diri sendiri kalo bisa ngelakuin hal tersebut karena memang mampu. Jadi lebih kepada validasi personal, bukan buat orang lain lagi.
Inilah Alasan Kenapa Warga Gak Bisa Seberuntung Orang Lain dalam Segala Hal
Keinginan aneh muncul dari kekosongan emosional
Kok begitu? Iya, pak, soalnya orang yang punya kekayaan yang banyak, nggak otomatis bikin hidup penuh makna. Bahkan, beberapa riset menunjukkan orang dengan kekayaan tinggi justru lebih sering mengalami existential boredom, yaitu rasa hampa karena hidup terlalu mudah diprediksi. Keinginan aneh kadang muncul sebagai usaha buat ngisi kekosongan tersebut. Bukan barangnya yang dicari, tapi perasaan hidup kembali dari rasa penasaran, deg-degan, sama excited. Makanya ada yang nekat bikin proyek absurd, hobi ekstrem, atau kejar pengalaman yang kelihatannya nggak perlu-perlu amat.
Lingkar sosial ikut ngegeser standar keinginan
Keinginan manusia itu relatif. Sangat dipengaruhi sama lingkungan sosial yang ada. Kalau lingkungan kita mayoritas masih mikir soal kebutuhan, keinginan kita juga realistis. Tapi ketika seseorang berada di lingkar sosial yang semuanya udah kaya, standar normal juga ikutan naik. Nah, di situlah punya rumah besar jadi biasa. Mobil mahal jadi standar. Akhirnya, yang dianggap menarik adalah hal-hal yang bahkan jarang di lingkungan mereka sendiri. Dari luar kelihatan aneh, dari dalam, cuma upaya jadi relevan di lingkarannya sendiri.
Otak manusia lebih tertarik sama keunikan daripada kegunaan
Secara neurologis, otak manusia lebih responsif sama hal-hal unik dibanding hal fungsional. Sesuatu yang beda, langka, atau nggak biasa lebih mudah diingat dan ngasih sensasi mental. Orang kaya, karena kebutuhan fungsionalnya udah terpenuhi, lebih bebas ngikutin dorongan ini. Makanya keinginan mereka sering nggak efisien, nggak praktis, tapi unik. Buat mereka, keunikan udah jadi nilai tersendiri buat mereka.
Inilah Alasan Kenapa Orang Keturunan Tionghoa Kebanyakan Lebih Kaya Daripada Orang Asli Indonesia
Tapi keinginan-keinginan aneh orang kaya ini bukan indikator kebahagiaan. Justru kadang jadi tanda seseorang lagi cari makna baru. Keinginan-keinginan ini sering jadi eksperimen hidup juga, “Kalau saya punya ini, saya bakal bahagia nggak, ya?” Dan seringnya, jawabannya tetap bahagia cuman sebentar doang. Pada akhirnya, Pak, keinginan orang kaya terlihat aneh karena kita melihatnya dari level hidup yang berbeda. Jadi kalau suatu hari dengar orang kaya pengin hal yang kelihatannya nggak masuk akal, kita anggepnya dia lagi nyari makna hidup versi dirinya sendiri aja.
