Yang Saya Lakukan Untuk Mempersiapkan Kematian Sejak Dini

Bacaan 3 menit

Mungkin bagi banyak orang, mempersiapkan kematian sejak dini di luar hal-hal yang terkait dengan keagamaan adalah sesuatu yang dianggap tidak penting. Banyak yang berpikir, kalau meninggal ya sudah selesai. Salah besar, Pak Bu!

Kebetulan di tahun 2022 lalu, saya mengalami musibah beruntun dalam 3 bulan menuju akhir tahun. Oma saya meninggal di awal Juli, kemudian Papa saya meninggal di akhir September. Dua momen itu membuat saya tersadar bahwa mempersiapkan kematian sejak dini adalah salah satu hal baik yang bisa kita tinggalkan untuk orang-orang yang akan mengurus kita setelah kematian.

Berikut sudah saya rangkum beberapa persiapan non agamawi yang bisa mulai Bapak Ibu siapkan dari sekarang:

1. Bergabung Keanggotaan Layanan Kematian

Gak perlu takut dan ragu ya Pak Bu, ini cukup datang ke kantornya atau kadang bisa melalui agen-agennya yang banyak tersebar di sekitar daerah kita. Awal tahun ini saya pribadi bergabung ke Yayasan Bunga Kemboja. Untuk perhitungan pembayarannya:
- Administrasi (hanya dibayarkan 1 kali di awal bergabung): Rp 110.000
- Iuran (dibayarkan perbulan, tapi saya pertiga bulan supaya gak keder): Rp 50.000/3 bulan atau Rp 200.000/tahun

Setelah itu, kita harus menunggu masa tunggu selama satu tahun. Maksudnya adalah, disaat kita meninggal sebelum satu tahun masa keanggotaan, maka layanan tersebut tidak bisa dipergunakan. Kayak asuransi aja karena ada masa tunggu aktifnya. Tapi disaat kita meninggal di atas satu tahun masa keanggotaan, layanan kematian bisa kita dapatkan secara cuma-cuma. 

Kadang ada yang tanya, kenapa harus bayar satu tahun dulu kalau emang belum bisa dipakai? Ya hitung-hitung kita bantu mensubsidi layanan kematian anggota lainnya yang membutuhkan. Nanti pun saat kita meninggal, kita juga akan disubsidi dari iuran anggota lain yang masih hidup.

Seingat saya, layanan kematian untuk jenazah muslim yang diberikan adalah ambulance beserta supirnya dari rumah duka ke pemakaman, 1 orang pemandu pemandian jenazah, dan 1 orang ustadz. Gak hanya itu, untuk keranda, tempat mandi, selang, kain kafan, dan perlengkapan lainnya juga sudah disiapkan. Walaupun cuma-cuma, tapi saran saya kalau lagi ada rezeki lebih, boleh kasih tanda terima kasih secara sukarela ya, Pak Bu.

Menurut saya, bergabung di layanan kematian semacam ini sangat penting, Pak Bu. Waktu itu saya juga merasakan mengurus jenazah yang gak tergabung di layanan kematian. Bener-bener bingung, Pak Bu. Kondisi cuma berdua dengan suami di rumah sakit, udah keburu keder. Akhirnya ambil layanan kematian (pengantaran jenazah dari rumah sakit ke rumah duka, pemandian, dan mengkafanan jenazah) dari vendor rumah sakit yang saya baru tau kalau harganya cukup ngagetin karena ternyata mereka harus nyetor ke rumah sakit juga.

2. Rapikan Dokumen Penting dan Berharga

Kalau ini saya yakin bikin paling males, apalagi kalau masih punya anak kecil, ngeri diberantakin waktu lagi beres-beres. Coba mulai luangin waktu buat nyicil rapiin dokumen penting dan berharga ya Pak Bu, karena dokumen-dokumen ini dibutuhkan untuk mengurus surat kematian Bapak Ibu kelak.

Apa aja sih yang harus dirapiin?

  • Dokumen pribadi: Akta kelahiran, kartu keluarga, kartu tanda penduduk, kartu BPJS, kartu asuransi, dan dokumen pribadi Bapak Ibu lainnya.

  • Dokumen harta benda: Buku tabungan, surat berharga bank, sertifikat bangunan, STNK, BPKB, dan dokumen harta benda Bapak Ibu lainnya.

  • Harta benda fisik: Emas atau perhiasan, kunci serep kendaraan, dan harta benda fisik Bapak Ibu lainnya.

  • Dokumen yang menyangkut orang lain: Dokumen pribadi pasangan dan anak, surat izin penggunaan makam orang tua (biasanya dibutuhkan untuk memperpanjang izin penggunaan), dan dokumen Bapak Ibu lainnya.

Buat dokumen-dokumen, kalau Bapak Ibu mau lebih rajin, tiap dokumen boleh sekalian disiapkan fotokopiannya ya, minimal 3 lembar boleh. Jangan lupa disimpan di tempat yang aman.

Saya yakin, kalau Bapak Ibu udah ngelakuin yang nomer dua ini, orang yang ngurus kematian Bapak Ibu pasti seneng banget deh soalnya biasanya kalau mau urus misal surat tanda kematian, surat ahli waris, dan semacamnya suka lama di bagian cari-carian dokumen karena dokumennya suka tercecer.

3. Info ke Orang Terdekat

Kalau hal-hal di atas udah dilakuin, langkah selanjutnya adalah infoin ke orang terdekat Bapak Ibu yang bisa dipercaya. Bisa pasangan, anak, atau anggota keluarga lain yang terdekat. Cukup info aja kalau misal Bapak Ibu udah tergabung di yayasan layanan kematian apa dan juga tempat penyimpanan dokumen serta barang berharga Bapak Ibu. 

Kadang kalau ibu saya mau berpergian jauh dan lama, ibu saya suka infoin ikut asuransi perjalanan yang ahli warisnya ditaro nama saya. Kemudian ibu saya juga ngasih tau tempat-tempat penyimpanan dokumen dan barang pentingnya supaya kalau amit-amit terjadi apa-apa, gak perlu cari-carian lagi. Kurang lebih seperti itu untuk persiapan kematian yang bisa kita lakukan dari sekarang. Saya yakin kalau melakukan hal-hal di atas merupakan salah satu usaha baik yang bisa kita tinggalkan untuk orang-orang yang akan mengurus kematian kita.


Kalau Bapak Ibu, sekiranya ada persiapan kematian lain yang dilakukan dari sekarang kah? Cerita di kolom komentar yuk Pak Bu, supaya bisa jadi inspirasi buat Bapak Ibu lainnya.

Ditulis oleh:
Ini Ibu Didi
Bacaan 3 menit
Dilihat :
285

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait