Mengenal Metode Positive Deviance untuk Pengembangan Diri

Bacaan 5 menit

Ngerasa udah nyoba banyak hal tapi masih ngerasa stuck? Mungkin ini salah satu solusinya!

 

Sekarang makin mudah ya buat ngakses sesuatu pake internet. Saking mudahnya setiap masalah yang kita punya bisa tinggal ketik keyword masalahnya di internet; gimana cara bikin kentang goreng krispi, gimana cara ganti ban serep, gimana ganti popok anak, sampe masalah-masalah yang kompleks kayak mengaplikasikan love language dalam kehidupan sehari-hari.

 

Kerap masalah-masalah kompleks yang melibatkan psikologi ini emang bener-bener asam manis kehidupan banget deh, apalagi zaman sekarang awareness temen-temen soal beginian udah kebentuk, gara-gara sering banget baca buku self-help kayak buku Psychology of Money, Atomic Habits, The Courage to be Happy, dan buku-buku self help terkenal lainnya. Jadi sesuai dengan judul dari artikel kali ini, kebetulan pengen banget ngenalin salah satu metode yang sebetulnya udah lama dari tahun 1990, namanya Metode Positive Deviance.

 

Metode Positive Deviance ini apa sih?

 

Jadi tahun 1990 ada dua pasutri yang disuruh ke Vietnam, namanya Jerry Sternin sama Monique Sternin. Misi mereka ke Vietnam adalah menyelesaikan masalah malnutrisi yang terjadi pada anak-anak disana, yang mencapai angka 65%. Alih-alih mengirimkan bantuan berupa uang dan makanan, keduanya mencari tahu kenapa 35% anak-anak lainnya sejahtera dan memiliki gizi yang terpenuhi, meskipun keluarga dari anak-anak kelompok 65% tersebut memiliki situasi dan kondisi yang tidak jauh berbeda dari keluarga anak-anak kelompok 35% tadi.

 

Usut punya usut, riset demi riset, ternyata Vietnam adalah negara agraris, dimana banyak sekali sawah-sawah. Orang tua dari anak-anak kelompok 35% ini memanfaatkan seluruh ekosistem yang terdapat di sawah untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya seperti udang, kepiting, dan beberapa rerumputan yang gak pernah sama sekali terpikir bisa dikonsumsi. Penemuannya ini langsung membuat pasangan Sternin ini melakukan edukasi dan menyebarluaskannya seantero negeri Vietnam dan berhasil menurunkan malnutrisi pada anak hingga 85% hanya dalam kurun waktu 2 tahun!

 

Positive Deviance Bahasa Indonesianya adalah penyimpangan yang positif, jadi sederhananya metode ini sebetulnya adalah meniru dan memperbanyak penyimpangan positif yang ada di suatu wilayah. Intinya masalah tersebut selalu memiliki solusi yang gak jauh-jauh amat, dan malah gak perlu bawa suatu ide baru dari suatu tempat nan jauh disana.

 

Bisa dong kita sederhanain kalo sebetulnya Metode Positive Deviance itu adalah metode yang mereplika/menduplikasi kebiasaan orang yang berhasil di sekitar kita supaya kita gak sedih-sedih amat hidupnya. Tapi kitakan harus menerima kalo hidup orang sama kita tuh beda ya, dari background, kapasitas orang tersebut, sampe suasana rumahnya.

 

Masa sih kita musti harus niru orang lain? Kalo gitu ada satu kasus yang sebetulnya sering banget dibahas! Kasus ini sering banget temen-temen temui, di kehidupan temennya temen-temen, di internet, sampe sanubari diri sendiri...

 

"Kenapa sih ada hari dimana kita produktif banget, tapi ada hari dimana kita males banget buat ngelakuin sesuatu alias mager... Kan sebetulnya enak banget gitu kalo tiap hari kita produktif!"

 

Akhirnya kita mencapai bagian, "Bagaimana caranya meniru diriku yang sangat rajin itu?"

 

Bagian ini bakal panjang dan dalam, tapi bagi temen-temen yang baca ini karena emang ada masalah dan pengen mempraktikan metode ini, bakal dikasih tahu garis besar metodenya.

 

Sebelum memulai semua ini, temen-temen harus banget punya kesadaran untuk ingin banget berubah. Semua hal di dunia ini harus dimulai dari rasa ingin, karena tindakan yang konkrit adalah tindakan yang dimana perkataan, hati, dan pikiran temen-temen selaras.

 

  • Cari pokok permasalahannya, misalnya keseringan mager, keseringan sedih, keseringan marah-marah, pokoknya masalahnya itu yang sering-sering muncul dan pengen diubah!
  • Menentukan kehadiran Positive Deviance itu sendiri, misalkan ya momen-momen jarang-jarang kayak tiba-tiba hari ini produktif banget, hari ini tiba-tiba lega banget meski banyak tekanan sana-sini, pokoknya Positive Deviance ini hal-hal yang jarang banget munculnya tapi pengen banget kita banyakin, kalo bisa tiap saat!

Kita udah ketemu kan ya Positive Deviance yang kita pengen, nah disini udah mulai sedap-sedap banget karena kita butuh banget waktu buat mikir dan kalo bisa nyatet, karena ini bakal jadi tahapan yang panjang dan dalam. Paling gampang tahapan-tahapannya kita buat dalam bentuk pertanyaan, kira-kira pertanyaan yang harus dijawab adalah sebagai berikut:

    • "Apa yang temen-temen lakuin sampe-sampe Positive Deviance ini terjadi?"

      Biasanya disini adalah hari atau momen. Disini kita harus menjawab apa yang kita lakuin sebelum dan saat momen-momen tersebut terjadi. Misalkan sebelum memulai hari-hari produktif tersebut, temen-temen memulai hari dengan merapikan kasur, atau gak dengan membuka gawai dalam satu jam pertama, dan lain sebagainya.

 

    • "Kenapa temen-temen melakukan hal tersebut?"

      Ketika kita melakukan sesuatu yang berbeda kerap aktifitas tersebut diikuti dengan alasan yang cukup jelas. Misalkan kita merapikan kasur karena di hari tersebut kita merasa risih banget atau kita gak ngecek gawai, karena kita lupa colok chargernya sebelum kita tidur. Mungkin juga waktu itu temen-temen ada di tempat mertua jadi temen-temen musti jaga image, harus kelihatan rajin adalah keharusan supaya dibeliin martabak. Mungkin juga waktu itu pasangan temen-temen lagi ulang tahun, jadi temen-temen pengen ngasih hal-hal sederhana kayak ngerjain kerjaan rumah; nyuci piring, ngelipet pakaian, masak.

 

    • "Apakah hal tersebut terjadi cukup sering? Bagaimana bisa hal tersebut membentuk Positive Deviance yang jarang-jarang terjadi?"

      Mungkin dengan melakukan hal-hal yang jarang-jarang amat temen-temen lakuin, ada perasaan-perasaan semangat untuk melakukan aktivitas selanjutnya yang biasanya ogah-ogahan dilakuin, mungkin juga temen-temen kehilangan distraksi yang gak pernah temen-temen pikir kalo itu tuh sebetulnya distraksi, mungkin ada perasaan lega yang bikin temen-temen gak kepikiran macam-macam. Kemungkinan-kemungkinan seperti ini harus ditelaah lagi lebih dalam.

 

    • Selain dari aktifitas, temen-temen bisa juga menelaah lebih dalam perasaan, situasi kondisi yang terjadi, dengan siapa dimana misalkan. Jadi sebetulnya pertanyaannya gak harus selalu ngikut dengan pertanyaan yang tertulis diatas gitu.

 

  • Jadi ditahap ini kita udah bisa mulai merancang aktifitas yang harus dilakuin. Kalo ada kondisi situasi atau perasaan yang sulit banget direplika, misalkan kehadiran seseorang yang mungkin sudah tiada, atau perasaan, temen-temen bisa kerja sama dengan orang terdekat untuk membuat situasi kondisi yang sama, misal kayak mengucapkan kata-kata semangat pagi-pagi untuk nge-up hari-hari temen-temen, atau sekedar ajakan-ajakan kecil. Mungkin juga temen-temen disini sendirian, gak ada yang bisa bantu, Self-Rationalizing juga bisa dilakukan, selalu mengingatkan diri sendiri kenapa harus ngelakuin hal seperti ini dan semacamnya begitu.

 

  • Memonitor dan mengevaluasi praktik yang sedang ataupun sudah dilakukan itu penting banget! Mungkin malah ketika melakukan praktik tersebut, temen-temen menemukan cara yang lebih sederhana dan lebih efektif dibandingkan rancangan awal yang udah ada. Mungkin juga ternyata ada saat-saat momen tertentu praktik seperti ini malah bikin lelah hayati atau burnout, dan membutuhkan istirahat. Mungkin juga ada situasi kondisi tertentu yang membuat aktifitas tertentu lebih dominan dibandingkan aktifitas lainnya.

 

Step-step diatas adalah garis besar yang bisa dijadikan patokan, mungkin ada yang mau ditambah atau diubah atau malah dikurangi sesuai dengan preferensi masing-masing juga bisa.

 

"Apakah metode ini ada kekurangannya?"

 

Tentu, gimana kalo praktik-praktik yang ditemukan oleh temen-temen adalah praktik yang merugikan diri sendiri? Misalkan merokok, atau self harm, atau perilaku konsumtif yang berlebihan. Melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri demi mendapatkan Positive Deviance adalah hal yang kurang efektif. Jadi temen-temen musti punya kebijaksanaan yang cukup untuk mengetahui mana yang menguntungkan diri sendiri mana yang merugikan diri sendiri. Keberadaan coach atau orang terdekat yang mau membantu juga sama pentingnya untuk menghindari sesuatu yang gak-gak.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Gak mungkin banget sebetulnya ngetik beginian gak pake referensi; referensi yang pertama itu dari youtube nya Healthy Gamer GG yang judulnya "The Harsh Reality of Problem Solving: What to Do When Nothing Works". Video ini adalah asal mula bisa tahu yang namanya Metode Positive Deviance itu sendiri. Beliau ini psikiater keren yang suka membahas mental health. Jadi kalo temen-temen disini punya masalah tertentu, mungkin dengan nonton video beliau bisa membuka wawasan temen-temen, "oh ternyata ada sudut pandang yang begini ya!".

 

Referensi kedua adalah wikipedia, karena gak punya buku tentang Positive Deviance, citation yang ada di wikipedia ngebantu banget buat ngetrack bacaan dan artikel-artikel pendukung!

 

Referensi ketiga yang gak kalah penting, dan menjadi salah satu referensi yang ngebantu banget nulis artikel kali ini adalah website positivedeviance.org itu sendiri. Banyak banget materi dan studi kasus yang bisa dipelajari lebih lanjut kalo mau kenal Positive Deviance itu sendiri! Bahkan ada field guide yang hadir dalam bahasa indonesia itu sendiri di:

https://static1.squarespace.com/static/5a1eeb26fe54ef288246a688/t/5a6eca628165f5ccc7d7637c/1517210210500/FieldGuide_BahasaIndonesia_PanduanDasarPositiveDeviance.pdf 

Akhir kata, terima kasih banyak sudah baca sampai sini, mungkin pas baca-baca artikel ini ada rasa kayak baca skripsi, tapi jujur deh ini bikinnya seharian.

Ditulis oleh:
vitalis emanuel setiawan
Bacaan 5 menit
Dilihat :
426

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait