5 Stigma yang Secara Gak Disadari Merugikan Laki-Laki

Bacaan 3 menit

Sadar ga sih pak, ada beberapa stigma di masyarakat kita yang kedengarannya normal atau terlihat positif padahal sebenarnya merugikan laki-laki? Ironisnya stigma-stigma ini udah mengakar turun temurun dan jadi bagian dari pola didik sebagian besar orang tua. Berikut diantaranya.

Harga diri diukur dengan materi

5 Stigma yang Secara Gak Disadari Merugikan Laki-Laki

Banyak laki-laki yang dihargai dan dianggap terpandang dari seberapa cemerlang karirnya, warna seragamnya dan banyaknya harta yang dia punya. Bahkan ketika jatuh cinta pun laki-laki harus banyak menimbang diri. Memang betul kalau cinta itu butuh modal, tapi rasanya nggak tepat kalau semuanya cuma dilihat dari harta aja. Faktanya nggak semua lelaki mampu berada di ekonomi tingkat atas, seragam yang keren dan karir yang mentereng. Bukan karena malas dan nggak berusaha, tapi faktor-faktor kayak sandwich generation atau minim akses ke pendidikan juga ngaruh. Rasanya nggak adil aja kalau lelaki harus jadi "ATM berjalan" dulu supaya dicintai dan diperlakukan dengan baik. Sedangkan value seorang lelaki bukan dilihat dari banyaknya materi, tapi dari akhlak, tanggung jawab, mau mengusahakan dan takut sama Tuhan.

Hal-Hal yang Jarang Diajarkan Orang Tua ke Anak Laki-Lakinya

Nangis dianggap lemah, ngeluh dianggap kalah

5 Stigma yang Secara Gak Disadari Merugikan Laki-Laki

Sedari kecil pasti kalimat yang sering kita dengar adalah "laki ga boleh nangis" "jangan lembek, gitu aja nangis". Akhirnya banyak lelaki yang tumbuh bagai besi bernyawa, mereka jadi sulit ngungkapin ekspresi dan emosi. Mau ngeluh pun rasanya kayak salah banget. Makanya muncul pepatah "pria tidak bercerita". Dibanding harus cerita betapa banyak struggle yang lagi dirasain, lelaki lebih milih bengong di depan teras atau duduk di kursi minimarket ditemani kopi botolan. Padahal mereka juga manusia yang punya perasaan dan bisa capek menghadapi berbagai tekanan terus terusan. Nangis itu wajar, pak. Justru menangis adalah cara alami buat lepasin emosi yang numpuk. Mengeluh sesekali juga wajar, bukan berarti kalah, tapi ada kalanya laki-laki juga capek harus selalu keliatan kuat di depan semua orang.

Pake skincare dicap "kurang lakik"

5 Stigma yang Secara Gak Disadari Merugikan Laki-Laki

Skin artinya kulit, care artinya ngerawat. Laki-laki kan juga punya kulit, jadi apa yang salah dengan lelaki yang rajin skincare an? Mungkin karena selama ini kata "skincare" identik dengan perempuan, makanya ketika ada laki-laki pake skincare langsung dijulid-in, dianggap "kurang laki". Padahal keren banget loh kalo ada laki - laki yang peduli sama kesehatan kulitnya dan pandai merawat kulit.

Basic Skincare buat Bapak yang Baru Mau Mulai Ngerawat Muka

Ngerjain kerjaan rumah = suami takut istri

5 Stigma yang Secara Gak Disadari Merugikan Laki-Laki

Biasanya stigma ini muncul akibat budaya patriarki. Di era sekarang harusnya semua orang ngerti dong ya kalau urusan domestik kayak nyuci baju, nyuci piring, masak dan beberes itu termasuk basic life skill, mau perempuan atau laki-laki ya harus bisa ngelakuin. Apalagi dalam rumah tangga, urusan rumah adalah tanggung jawab seluruh penghuni rumah. Jadi kalo ada suami yang ngerjain urusan domestik bareng-bareng atau gantian sama istri berarti dia paham tugas dan tanggung jawab, bukan suami takut istri.

Menormalisasi kenakalan

5 Stigma yang Secara Gak Disadari Merugikan Laki-Laki

Ini stigma yang umum banget di masyarakat. Menormalisasi kenakalan dengan alibi "namanya juga laki, wajar". Ya kalo nakalnya semacam ngumpetin sendal orang, main bola sampe maghrib atau pencetin bel rumah orang mungkin masih bisa ditolerir, sayangnya sebagian orang justru ngewajarin bentuk nakal yang lain kayak gangguin anak perempuan, bicara atau berbuat kasar, ngerokok, dan semacamnya. Padahal bentuk kenakalan kayak gini bisa berdampak keterusan atau malah lanjut ke level yang lebih parah dan merugikan orang lain. Kalo ada yang bilang "namanya juga anak kecil" justru karena masih kecil harus diajarin mana yang baik atau buruk dan harus dicontohin.

Dari kelima stigma diatas semoga kita bisa belajar buat meluruskan yang keliru dan lebih bisa memahami setiap manusia ya, pak.

Ditulis oleh:
Dhiajeng Tri
Bacaan 3 menit
Dilihat :
108

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait