Apa yang Bisa Orang Tua Pelajari dari Buku Broken Strings yang Viral Saat Ini?

Bacaan 4 menit

Akhir-akhir ini social media rasanya penuh ngebahas satu judul buku yang sama, yaitu Broken Strings karya Aurelie Moeremans. Banyak yang bilang buku ini cukup kelam dan jadi suara orang-orang yang punya pengalaman yang sama, bahkan ada yang ngaku nangis cuma karena baca beberapa halaman. Sebagai orang tua terutama bapak-bapak, jujur saya bacanya bukan cuma sebagai karya sastra, tapi sebagai alarm kecil yang bunyinya agak lama di kepala.

“Kalau ini kejadian ke anak saya, saya siap nggak?”

Salah satu hal yang bikin Broken Strings terasa dekat adalah kisah yang menggambarkan anak yang kelihatannya normal. Masih sekolah, gampang ketawa, masih bisa diajak ngobrol, dan punya banyak teman, tapi di dalamnya, ada luka yang pelan-pelan numpuk. Sebagai orang tua, ini bagian yang paling bikin nggak nyaman. Karena sering kali kita merasa tugas kita selesai ketika anak terlihat baik-baik aja, nilai aman, nggak bikin masalah, dan nggak neko-neko. Padahal, buku ini kayak ngingetin anak bisa kelihatan utuh, tapi sebenarnya senarnya satu-satu putus. Dan yang bikin makin nyesek, senar itu sering putus bukan karena satu kejadian besar, tapi karena hal kecil yang kejadian berulang, mulai dari kata-kata yang dianggap bercanda, perbandingan yang kelihatannya sepele, atau tuntutan yang dibungkus kalimat “demi masa depan kamu”. Sebagai bapak, bagian ini bikin refleksi. Kita sering mikir, “Ah, dulu saya juga digituin, tapi saya baik-baik aja.” Tapi buku ini kayak nyeletuk pelan, apa benar baik-baik aja, atau cuma terbiasa menahan?

Bukan Bentakan, Tapi Kebiasaan Kecil Ini Bisa Jadi Toxic Parenting ke Anak

Luka yang nggak selalu berbentuk kekerasan

Broken Strings nggak selalu bicara soal kekerasan fisik atau trauma ekstrem. Justru yang bikin ngeri, banyak lukanya berbentuk hal yang dianggap normal di keluarga, anak diminta mengerti terus, anak diminta kuat terus, bahkan anak diminta nurut tanpa banyak tanya. Sebagai orang tua, kita sering lupa, anak bukan orang dewasa versi kecil. Pas mereka sedih, bingung, takut, atau kecewa, perasaan itu beneran ada, tapi karena kita ngeremehin hal-hal kayak begitu, sering kali respons kita malah, “Ah, gitu doang.” Nah, di buku ini, dampaknya kelihatan jelas. Anak belajar satu hal berbahaya, perasaannya nggak penting. Dan ketika perasaan dianggap nggak penting, anak akan berhenti cerita. Bukan karena nggak butuh, tapi karena capek ditolak.

Apa yang Bisa Orang Tua Pelajari dari Buku Broken Strings yang Viral Saat Ini?

Sebagai orang tua, ini bukan buku yang nyaman dibaca

Jujur aja, Broken Strings bukan bacaan yang bikin kita merasa jadi orang tua hebat, justru sebaliknya. Buku ini kayak kaca besar yang nunjukin sisi yang jarang mau kita lihat. Ada rasa bersalah, rasa takut, ada juga rasa defensif. Tapi mungkin poinnya bukan soal separah apa, melainkan sejauh apa kita mau sadar. Buku ini mengajak orang tua buat berhenti merasa selalu benar. Karena dalam banyak kasus, niat baik nggak otomatis berarti dampaknya baik. Dari sudut pandang orang tua, ada beberapa pelajaran penting yang cukup keras tapi perlu ditelan pelan-pelan.

Anak Butuh Didengar, Bukan Langsung Diperbaiki

Refleks orang tua seringkali jadi bentuk solusi. Anak cerita sedih, kita langsung kasih nasihat. Anak cerita capek, kita langsung suruh kuat. Padahal, sering kali anak cuma butuh satu hal, yaitu didenger tanpa perlu dihakimi ini atau itu.

Validasi Lebih Penting dari Nasihat

Kalimat sederhana kayak,  “Masuk akal kamu ngerasa gitu.”, “Wajar kalau kamu capek.”, atau “Bapak dengerin, lanjut.” Justru bisa jadi penahan senar supaya nggak makin putus. Ini bikin anak ngerasa ditemenin, divalidasi, dan didukung dalam keadaan apa pun.

Diam Bukan Berarti Aman

Anak yang pendiam, nurut, nggak banyak nuntut, sering dianggap paling gampang diurus. Buku ini ngingetin kalo anak yang terlalu diam justru sering paling banyak menyimpan banyak hal, terutama luka. Kita yang dewasa aja kalo mendem luka dan stres terlalu lama bakal jadi penyakit, nah anak kita jangan sampe kayak begitu dah.

Orang Tua Juga Bisa Salah

Ini bagian yang berat. Mengakui salah ke anak nggak sama dengan menjatuhkan wibawa yang orang tua punya. Justru sering kali jadi momen paling menyembuhkan, berdamai, dan lebih hangat ketimbang lagi kumpul tapi unek-unek masih mandet di dalem dada.

Kalau Anak Kita Mengalami Hal Seperti di Broken Strings, Apa yang Bisa Dilakukan?

Apa yang Bisa Orang Tua Pelajari dari Buku Broken Strings yang Viral Saat Ini?

Ini bagian paling penting. Karena refleksi tanpa tindakan cuma jadi rasa bersalah berkepanjangan.

Bangun Ulang Ruang Aman di Rumah

Mulai dari hal kecil kayak jangan potong cerita anak, jangan langsung membandingkan, dan jangan meremehkan perasaan. Rumah harus jadi tempat paling aman buat jujur, bukan tempat paling takut buat cerita. Soalnya, kalo bukan di rumah dan balik lagi ke keluarga, ke mana lagi anak harus pulang dan bersandar, Pak.

Perbaiki Pola Komunikasi, Bukan Cuma Nyuruh Anak

Kalau anak susah cerita, jangan langsung mikir anaknya tertutup. Bisa jadi selama ini pola komunikasi kita yang bikin dia belajar untuk diam. Salah dikit, dibentak. Ngomong dikit, dibilang terlalu cerewet. Padahal kalo anak udah mau terbuka sama kita, udah paling gampang buat mantau gimana pergaulannya di luar rumah.

Berani Minta Bantuan Profesional

Kalau tanda-tandanya sudah mengarah ke depresi, kecemasan berat, atau self-harm, jangan sok kuat. Psikolog atau konselor bukan tanda gagal jadi orang tua, tapi tanda bertanggung jawab. Zaman sekarang kalo dateng ke profesional kagak bakal dipandang sebelah mata, justru ada rasa bangga, ternyata orang tua sekarang justru lebih aware sama kesehatan mental anak sendiri.

Konsisten

Perubahan nggak instan, anak nggak langsung percaya cuma karena satu obrolan baik. Kepercayaan dibangun dari konsistensi kecil yang berulang. Ini juga yang nantinya bakal ngebentuk karakter anak di masa depan. Kebiasaan baik yang konsisten bisa berbuah manis pas anak udah dewasa.

Rumus Parenting 7x3 yang Bisa Bantu Bapak Didik Anak

Sebagai orang tua, tugas kita bukan jadi sempurna, tapi jadi lebih sadar, hadir, dan mau belajar ulang cara mencintai anak. Bapak nggak bakal tau kalo senar mulai putus satu-satu, sering kali baru sadar pas musiknya udah nggak bisa dimainkan lagi. Dan semoga, lewat buku ini, kita sebagai orang tua bisa lebih peka. Bukan cuma ke prestasi anak, tapi ke isi hatinya.

Ditulis oleh:
Atun Gorgom
Bacaan 4 menit
Dilihat :
7

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait