Peran Bapak dalam Kesehatan Mental Anak yang Sering Nggak Disadari

Bacaan 3 menit

Siang itu saya baru pulang kerja. Badan capek, kepala masih penuh sisa-sisa masalah kantor yang belum kelar. Begitu buka pintu rumah, anak saya langsung nyamperin sambil cerita panjang lebar soal kejadian di sekolah. Jujur, refleks pertama saya pengin bilang, “Nanti ya, bapak capek.” Tapi entah kenapa, hari itu saya duduk. Tas saya taruh. Sepatu belum dilepas. Saya dengerin.

Peran Bapak dalam Kesehatan Mental Anak yang Sering Nggak Disadari

Dari situ saya mulai paham satu hal yang dulu sering saya anggap sepele, peran bapak di kesehatan mental anak bukan cuma penting, tapi krusial. Bukan tambahan, apalagi cadangan, tapi fondasi. Dulu saya pikir tugas bapak itu ya cari uang, pulang bawa nafkah, anak aman sekolah, istri tenang. Urusan perasaan, nangis, takut, bingung, itu wilayah ibu. Bapak cukup tegas, kuat, jadi “tembok”. Ternyata, tembok yang terlalu tebal kadang bikin anak nggak berani cerita apa-apa.

Rumus Parenting 7x3 yang Bisa Bantu Bapak Didik Anak

Saya pernah ngalamin fase di mana anak saya jadi pendiam. Bukan pendiam yang anteng, tapi pendiam yang kosong. Ditanya jawabnya singkat, diajak ngobrol matanya ke mana-mana. Awalnya saya kira cuma fase, atau mungkin lagi kecanduan gadget. Sampai suatu malam, dia nangis pelan di kamar. Nggak teriak, tapi nangis yang ditahan. Di situ saya sadar, mungkin selama ini saya hadir secara fisik, tapi absen secara emosional.

Peran Bapak dalam Kesehatan Mental Anak yang Sering Nggak Disadari

Kesehatan mental anak bukan cuma soal anak nggak stres atau anak nggak trauma, tapi soal anak merasa aman jadi dirinya sendiri. Aman buat salah, aman buat takut, dan aman buat cerita tanpa takut dihakimi. Di banyak rumah, figur bapak adalah penentu rasa aman itu sendiri. Anak ngeliat bapaknya sebagai simbol kekuatan, kalau simbol kekuatan cuma muncul pas marah, pas ngatur, pas menuntut, anak akan belajar satu hal, perasaan harus disembunyikan. Tapi kalau bapak bisa duduk, dengerin, dan bilang, “Nggak apa-apa ngerasa kayak gitu,” anak belajar bahwa perasaan itu valid.

Saya mulai belajar pelan-pelan. Belajar nanya bukan cuma, “Sekolah gimana?” tapi, “Hari ini bagian mana yang bikin kamu seneng?” atau “Tadi ada yang bikin kamu kesel nggak?” Awalnya emang bakal canggung, anak saya juga bingung jawabnya. Tapi lama-lama, obrolan kayak tadi justru jadi kebiasaan. Di situ saya lihat perubahan. Bukan perubahan instan yang cepet, tapi perubahan kecil. Anak jadi lebih ekspresif, lebih berani cerita kalau takut., lebih jujur soal perasaannya, dan yang paling penting dia nggak takut sama saya.

Peran Bapak dalam Kesehatan Mental Anak yang Sering Nggak Disadari

Sebagai bapak, kita sering diajarin buat kuat. Tapi jarang diajarin bahwa menunjukkan empati juga bentuk kekuatan. Kuat bukan cuma tahan banting, tapi juga sanggup nahan ego sendiri demi dengerin cerita anak yang kelihatannya sepele, tapi buat dia itu adalah dunianya.

Ada satu momen yang nancep banget di kepala saya. Anak saya pernah bilang, “Aku seneng kalau cerita ke Ayah, soalnya Ayah nggak langsung nyuruh aku kuat.”
Kalimat sederhana, tapi nusuk. Dari situ saya makin paham, bapak punya peran besar dalam membentuk cara anak memandang emosinya sendiri. Kalau bapak meremehkan perasaan anak, anak akan belajar meremehkan dirinya sendiri. Kalau bapak menghargai perasaan anak, anak belajar menghargai dirinya. Peran bapak juga kelihatan dari cara kita mengelola emosi sendiri. Anak bukan cuma denger apa yang kita bilang, tapi ngeliat apa yang kita lakuin. Kalau bapak marah dikit-dikit, ngomel tiap stres, atau menutup diri pas capek, anak menyerap itu sebagai cara dewasa menghadapi masalah. Saya pernah salah di sini. Pulang kerja, emosi belum turun, suara meninggi ke anak. Setelah itu saya minta maaf. Dan minta maaf ke anak, buat saya, adalah pelajaran besar. Anak jadi tahu bahwa orang dewasa juga bisa salah. Dan minta maaf bukan tanda lemah.

Fenomena Latte Dad, Bapak-Bapak Swedia Jadi Role Model Parenting Modern

Kesehatan mental anak juga tumbuh dari kehadiran bapak yang konsisten. Bukan harus selalu ada 24 jam, tapi hadir sepenuhnya saat memang ada. Main sebentar tapi fokus, lebih berarti daripada seharian bareng tapi pikiran di mana-mana. Saya nggak bilang saya udah paling benar, jauh banget malahan. Saya masih sering gagal, masih suka kelepasan, dan masih belajar. Tapi satu hal yang saya pegang sekarang, anak nggak butuh bapak yang sempurna. Anak butuh bapak yang mau belajar.

Karena di balik anak yang sehat mentalnya, hampir selalu ada orang dewasa yang merasa aman buat dia datangi. Dan posisi itu, Pak, sering kali adalah bapaknya. Kalau hari ini bapak masih ngerasa canggung buat ngobrol soal perasaan sama anak, nggak apa-apa. Mulai aja pelan-pelan, dari duduk bareng, dan dengerin anak tanpa nyela.

Ditulis oleh:
Atun Gorgom
Bacaan 3 menit
Dilihat :
6

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait