Bukan Bentakan, Tapi Kebiasaan Kecil Ini Bisa Jadi Toxic Parenting ke Anak

Bacaan 4 menit

Jadi orang tua emang gak akan pernah gampang. Variabelnya banyak bener dan gak akan pernah sama rumusnya ditiap anak. Tapi seringnya anak kebentuk bukan dari ilmu-ilmu parenting yang udah kita siapin dan pelajarin. Justru dari hal-hal kecil kayak kalimat pendek, nada tinggi, atau respons cepat yang rasanya biasa aja buat kita tapi buat anak justru sebaliknya.

Nah, dalam dunia parenting dan psikologi perkembangan anak, ada istilah micro habit. Ini bukan tentang kekerasan, bentakan, apalagi perlakuan ekstrem. Micro habit ini adalah kebiasaan kecil yang diulang terus-menerus. Mulai dari gimana cara ngomong ke anak, cara merespons emosi mereka, dan cara kita bereaksi pas lagi capek, lapar, atau pikiran lagi penuh. Micro habit ini jarang terasa dalam jangka waktu pendek, tapi pelan-pelan, ia ngebentuk cara anak melihat dirinya sendiri, cara anak memahami cinta, dan cara anak ngebangun hubungan dengan orang lain pas dewasa nanti. Masalahnya, hampir semua orang tua melakukannya tanpa sadar.

5 Jenis Gaya Parenting dan Efeknya Pada Anak

Salah satu micro habit yang paling sering terjadi adalah membandingkan anak. Kadang serius, kadang bercanda, kayak, “Lihat tuh anaknya si A, pinter banget.” Atau, “Kakaknya dulu bisa, masa kamu nggak?” Di kepala orang tua, kalimat ini sering dianggap motivasi. Tapi di kepala anak, kalimat ini berubah jadi rasa nggak cukup. Dampak anak yang sering dibandingkan, cenderung punya harga diri lebih rendah dan tingkat kecemasan yang lebih tinggi. Anak jadi belajar bahwa dirinya berharga bukan karena proses dan usahanya, tapi karena posisinya dibanding orang lain. Pelan-pelan, anak tumbuh dengan perasaan harus selalu mengejar standar eksternal, bukan memahami potensi dirinya sendiri.

Micro habit lain yang sering dianggap sepele adalah meremehkan emosi anak. Anak sedih dibilang lebay, anak kecewa disuruh kuat, anak marah dianggap drama. Niatnya sering kali baik, supaya anak nggak manja dan bisa cepat bangkit, tapi yang ditangkap anak bukan pesan itu. Yang ditangkap anak adalah perasaannya nggak penting, istilahnya emotional invalidation. Anak yang tumbuh dengan emosi yang sering diremehin bakal kesulitan mengenali dan mengelola emosinya sendiri di masa dewasa. Mereka bisa keliatan kuat dari luar, tapi di dalam sering bingung dengan perasaannya sendiri. Ngerasa nggak enak tapi nggak tahu kenapa.

Bukan Bentakan, Tapi Kebiasaan Kecil Ini Bisa Jadi Toxic Parenting ke Anak

Ancaman kecil juga termasuk micro habit yang sering dipakai sebagai jalan pintas. Kalimat kayak, “nanti ayah tinggal, ya!”, “mama nggak sayang lagi, loh!”, atau “kalau nakal nggak dibeliin” biasanya keluar pas orang tua udah capek, tapi buat anak, ancaman ini bukan cuma soal hukuman. Dalam teori attachment, ancaman kehilangan figur aman bisa memicu pola insecure attachment. Anak belajar kalo cinta orang tuanya punya syarat, dan hubungan bisa putus kapan saja kalau dia bikin salah. Pola ini sering kebawa-bawa sampai dewasa dalam bentuk rasa takut ditinggal, people pleasing, atau susah percaya sama hubungan yang stabil.

Ada juga micro habit yang bentukannya kontrol berlebihan yang sering dibungkus pake kata-kata sayang. Orang tua ngatur hampir semua hal, dari pilihan kecil sampai keputusan besar. Anak jadi terlihat penurut, sopan, dan “nggak bikin masalah”. Tapi di balik itu, anak nggak pernah benar-benar belajar ngambil keputusan sendiri. Padahal kontrol psikologis yang berlebihan bisa menghambat perkembangan kemandirian anak, bikin mereka nggak percaya diri, dan nambahin risiko pemberontakan di usia remaja atau dewasa muda. Anak tumbuh dengan rasa takut salah, bukan rasa percaya diri.

Hal kecill lainnya ada pujian, yang bisa jadi micro habit bermasalah kalau salah fokus. Terlalu sering memuji anak cuma karena hasil, kayak “kamu pinter banget” atau “kamu memang jago”, tanpa ngebahas usaha dan prosesnya, bikin anak belajar kalo nilai dirinya tergantung sama keberhasilan dia. Padahal pujian yang cuma berfokus sama hasil, bisa nurunin growth mindset. Anak jadi takut gagal dan cenderung ngehindarin tantangan.

Bukan Bentakan, Tapi Kebiasaan Kecil Ini Bisa Jadi Toxic Parenting ke Anak

Ada satu micro habit lagi yang sering luput dibahas, yaitu orang tua yang nggak pernah mau minta maaf ke anak. Banyak orang tua merasa minta maaf bakal bikin wibawa mereka jatoh. Padahal, anak belajar etika dan tanggung jawab bukan dari nasihat panjang, tapi dari contoh yang diliat. Ketika orang tua mau mengakui kesalahan, anak belajar bahwa salah itu manusiawi dan memperbaiki itu penting.

Semua micro habit ini nggak berdiri sendiri, tapi bekerja lewat pengulangan. Sedikit demi sedikit, setiap hari. Sampai suatu hari, anak tumbuh dewasa dengan perasaan yang susah dijelasin. Kelihatannya baik-baik aja, tapi sering ngerasa kurang, cemas, atau terus berusaha jadi versi tertentu biar layak dicintai.

Terus, apa ini berarti orang tua pasti gagal?

Kagak juga. Kita bisa mulai dari hal yang paling sederhana, sadar dan mau berhenti sebentar. Banyak micro habit toxic muncul bukan karena kesengajaan, tapi karena refleks pas kita lagi capek. Pas bapak mulai sadar kalo reaksi bisa dipilih, bukan sekadar diledakkin, perubahan sebenarnya udah mulai terjadi.

Solusi berikutnya adalah belajar ganti bahasa, bukan nekan emosi. Marah boleh, kesal boleh, capek boleh, tapi caranya yang diubah. Dari ancaman jadi penjelasan, dari banding-bandingin jadi mengakui proses, dari nyuruh diam jadi ngedengerin sebentar. Bahasa yang kita lontarin pelan-pelan jadi suara di kepala anak, dan suara yang ada di otak anak bisa jadi penguat atau beban seumur hidup.

Bukan Bentakan, Tapi Kebiasaan Kecil Ini Bisa Jadi Toxic Parenting ke Anak

Kita sebagai orang tua juga perlu belajar memvalidasi emosi anak tanpa harus selalu nurutin keinginannya. Ngakuin perasaan bukan berarti ngalah, anak tetap bisa diarahkan, tapi dengan perasaan aman di dalemnya. Dari sini anak belajar bahwa emosinya diterima, walopun perilakunya tetap perlu diarahkan.

Berani minta maaf ke anak juga bagian penting dari solusi. Ini bukan tanda kalah. Justru ini tanda hubungan yang sehat. Anak yang ngeliat orang tuanya mau bertanggung jawab atas kesalahan, bakal tumbuh dengan pemahaman kalo relasi yang baik bukan soal siapa paling benar, tapi siapa mau memperbaiki. Yang paling berat adalah berhenti mewariskan luka lama. Banyak micro habit toxic lahir dari kalimat, “Dulu gue juga diginiin.” Padahal nggak semua yang bikin kita kuat dulu perlu diturunin. Kadang, tugas orang tua hari ini bukan ngelanjutin pola lama, tapi mutus siklusnya.

Rekomendasi Channel YouTube buat Warga Belajar Parenting

Satu lagi yang sering dilupain, orang tua juga manusia. Orang tua yang kelelahan, emosinya nggak pernah diurus, dan hidupnya cuma berisi tuntutan bakal jauh lebih rentan ngelakuin toxic parenting tanpa sadar. Istirahat, minta bantuan, dan ngakuin rasa capeknya, ini kagak egois yak justru bagian dari ngejaga kualitas pengasuhan.

Ditulis oleh:
Atun Gorgom
Bacaan 4 menit
Dilihat :
26

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait