Kadang kita mikir, olahraga palingan ya muter-muter di bola, bulu tangkis, sama balap motor yang sering masuk TV, sering disambut pejabat, sampe posternya ada dimana-mana. Padahal, di luar sana, ada banyak cabang olahraga Indonesia yang sering berangkat ke luar negeri, bawa nama negara, pakai seragam merah putih, tapi pulangnya cuma disambut keluarga dan grup WhatsApp komunitas. Bukan karena prestasinya kecil, tapi karena sorotannya memang belum kebagian lampu besar. Dan ya, pemerintah juga sebenarnya bukan gak peduli, tapi lebih ke keterbatasan prioritas dan anggaran yang harus dibagi ke banyak sektor. Tapi cerita para atlet ini tetap layak diceritain, Pak.
Woodball
Foto: Kemenpora
Kalau pertama kali dengar, banyak warga pasti mikir ini olahraga main kayu di kebun. Padahal woodball ini salah satu olahraga internasional, mirip golf tapi lebih merakyat. Indonesia termasuk yang aktif ikut turnamen Asia dan dunia, bahkan sering naik podium di kejuaraan regional. Masalahnya, karena bukan olahraga “prime time”, dukungannya sering datang dari patungan atlet, sponsor kecil, atau komunitas sendiri. Atletnya jalan terus, prestasinya ada, tapi gaungnya sering kalah sama olahraga yang lebih populer.
Olahraga yang Mungkin Baru Bapak Dengar
Floorball
Foto: koni badung
Olahraga mirip hoki ini berkembang pesat di Asia Tenggara. Tim Indonesia cukup rutin tampil di kejuaraan Asia dan internasional. Yang main bukan atlet setengah-setengah, tapi yang emang latihannya serius, fisiknya keras, dan jadwal tandingnya padat. Tapi karena belum banyak dikenal masyarakat, dukungannya juga masih sebatas komunitas. Pemerintah bukan gak tahu, tapi ya, floorball belum masuk radar utama. Padahal potensi prestasinya nyata.
Ultimate Frisbee
Foto: Radar Mojokerto
Ini olahraga lari nonstop sambil lempar frisbee, Pak. Jangan dibayangin main santai di pantai. Atletnya stamina baja, strategi kompleks, dan Indonesia cukup rutin ikut kejuaraan Asia dan dunia. Yang bikin miris, banyak atlet Ultimate Frisbee Indonesia yang berangkat ke luar negeri pakai dana sendiri. Mereka tetap berangkat bukan karena dijanjikan apa-apa, tapi karena rasa cinta sama olahraga dan bendera yang dibawa di dada.
Softball dan Baseball
Foto: detikcom
Dua olahraga ini sebenarnya udah lama ada di Indonesia dan sering ikut turnamen internasional, terutama di Asia. Prestasi ada, pembinaan jalan, kompetisi nasional rutin. Tapi perhatian publik masih minim. Kalau gak ada event besar, jarang dibahas. Pemerintah sendiri lebih fokus ke cabang yang punya peluang medali cepat. Softball dan baseball jadi korban sunyi dari sistem prioritas.
Inline Hockey dan Ice Hockey
Foto: www.cikal.co.id
Indonesia bukan negara dingin, tapi atlet ice hockey dan inline hockey kita tetap ada dan ikut kejuaraan luar negeri. Latihannya susah, fasilitas terbatas, biaya tinggi. Banyak atletnya adalah pejuang sejati, latihan malam, kerja siang, nabung sendiri buat tanding. Pemerintah? Ada, tapi belum maksimal. Bukan karena abai, lebih ke belum kuat nopang cabang dengan biaya setinggi itu.
Panjat Tebing
Foto: detikcom
Kita sering dengar panjat tebing pas Olimpiade. Tapi di luar itu, ada banyak kategori dan kejuaraan internasional yang diikuti atlet Indonesia, khususnya di jalur kompetisi non-mainstream. Bahkan di SEA Games 2025 kemarin, Tim Panjat Tebing Indonesia berhasil bawa pulang 4 emas sekaligus. Potensi yang besar ini masih belum dilirik pemerintah buat memfasilitasi atlet-atlet berbakat yang layak untuk dikasih perhatian lebih.
Skateboard
Foto: Bola.icom
Sejak masuk Olimpiade, skateboard memang sempat naik daun. Tapi di luar event besar itu, atlet skateboard Indonesia cukup sering ikut kompetisi internasional, dari Asia sampai level dunia. Yang jarang kelihatan adalah prosesnya. Banyak skateboarder Indonesia tumbuh dari komunitas, latihan di skatepark seadanya, bahkan kadang patungan buat berangkat lomba. Pemerintah hadir di momen besar, tapi keseharian atletnya masih ditopang ekosistem kecil yang solid tapi terbatas. Padahal, talenta Indonesia di skateboard cukup diakui di luar negeri.
Angkat Beban
Foto: Kemenpora
Ini cabang yang sering bikin Indonesia harum, tapi anehnya, perhatiannya sering musiman. Pas dapet medali, rame. Pas lagi pembinaan, sepi. Padahal atlet angkat beban Indonesia hampir tiap tahun ikut kejuaraan internasional, dari Asia sampai dunia. Latihannya keras, disiplin tinggi, dan usianya relatif pendek. Banyak lifter yang bertahan bukan karena fasilitas mewah, tapi karena mental baja dan rasa tanggung jawab.
Rekomendasi Outfit Olahraga Pria Sesuai Jenis Olahraganya
Renang
Foto: ANTARA NEWS
Renang ini cabang mahal, Pak. Fasilitasnya butuh standar tinggi, jam latihan panjang, dan kompetisi luar negeri wajib diikuti kalau mau berkembang. Atlet renang Indonesia cukup sering ikut kejuaraan internasional, tapi karena belum banyak yang “meledak” di level dunia, perhatiannya masih kalah jauh dibanding cabang lain. Padahal progresnya ada, regenerasinya jalan, dan banyak atlet muda yang pelan-pelan naik level. Renang ini contoh cabang yang kerjanya konsisten, tapi tepuk tangannya sering telat.
Canoe Sprint
Foto: Kemenpora
Mungkin banyak warga yang baru dengar istilah ini. Canoe sprint adalah cabang dayung kecepatan yang cukup rutin diikuti atlet Indonesia di kejuaraan internasional, khususnya Asia. Latihannya berat, lokasinya sering jauh dari pusat kota, dan atletnya jarang muncul di media. Tapi soal disiplin dan konsistensi, jangan ditanya. Banyak atlet canoe sprint yang udah terbiasa berangkat ke luar negeri tanpa ekspektasi disorot, yang penting tanding, bawa nama negara, pulang lanjut latihan.
Marathon dan Lari Jarak Jauh
Foto: Jawa Pos
Ini mungkin yang paling sunyi. Banyak pelari Indonesia yang ikut marathon internasional, dari Asia sampai Eropa, baik atas nama negara maupun independen. Mereka latihan pagi buta, lari ratusan kilometer per bulan, jaga makan, jaga badan, sering sambil tetap kerja kantoran. Pemerintah memang lebih fokus ke atlet elite, tapi di level bawah sampai menengah, dunia marathon Indonesia hidup karena komunitas dan semangat personal.
Kalau dilihat satu-satu, cabang-cabang ini punya satu kesamaan, atletnya jalan terus walau sorotan datangnya belakangan. Pemerintah bukan gak peduli. Tapi dengan banyaknya cabang, keterbatasan anggaran, dan tuntutan prestasi cepat, pasti ada yang belum kebagian lampu terang. Dan ini realita yang mau gak mau harus diterima. Yang bikin salut, para atlet ini gak berhenti. Mereka tetap latihan, tetap tanding, tetap berangkat, walau seringnya berangkat sendiri.
