Belakangan ini, earphone kabel mendadak naik lagi. Barang yang dulu sempat dianggap ketinggalan zaman, sekarang nongol lagi di telinga Gen Z, dipakai jalan, nongkrong, naik transportasi umum, bahkan jadi bagian dari gaya berpakaian. Ini menarik, karena di saat teknologi berlomba-lomba jadi makin wireless, sebagian orang justru balik ke kabel.
Zero Post, Tren Gen Z yang Susah Dimengerti sama Bapak
Earphone dirasa lebih sederhana
Kagak perlu dicas, gak perlu pairing, dan gak perlu buka pengaturan Bluetooth. Di zaman sekarang pan, dari benda segede mobil sampe perintilan kayak TWS selalu butuh dicas. Bukannya apa-apa kadang pan kita lupa buat cas barang tersebut atau emang kagak ada waktunya aja. Nah, makanya pas ada satu benda yang bisa dipakai tanpa tambahan tanggung jawab, rasanya jadi lebih lega. TWS emang praktis, tapi baterainya harus dicas, casing-nya gak boleh hilang, bluetooth-nya kadang kesendat-sendat, earbud kanan dan kiri harus kompak. Kalau salah satu hilang, aktivitas jadi kagak mood seharian. Beda sama earphone kabel yang kalo rusak, nyangkut, kusut, keliatan sama mata. Bukan yang tiba-tiba langsung rusak tapi kagak tau penyebabnya apaan. Makanya, pada balik ke earphone kabel bukan cuma soal teknologi, tapi soal keinginan manusia modern buat punya barang yang nggak nambah beban pikiran.

Gen Z suka yang retro, tapi tetap punya alasan praktis
Gen Z sering dianggap generasi paling digital, tapi justru mereka juga punya ketertarikan besar sama hal-hal retro. Kamera digital lama, CD player, dumbphone, kaset, vinyl, sampai earphone kabel bisa tren lagi karena punya karakter visual yang kuat. Benda-benda lama ini terasa punya "rasa”, bukan cuma fungsi. Earphone kabel punya bentuk yang keliatan, kabelnya menjuntai bisa masuk frame foto, dan ngasih kesan effortless. Di media sosial, kalo ada yang kelihatan jadul justru bisa terasa keren karena beda dari tampilan teknologi modern yang terlalu mulus, minimalis, dan kadang terlalu mirip satu sama lain. Di sinilah siklus tren bekerja. Barang yang dulu biasa saja, lalu dianggap jadul, lama-lama bisa kembali jadi keren. Sama kayak celana cutbray, kamera pocket, atau sepeda lipat. Dunia fashion kadang memang kayak lemari rumah orang tua, kalau sabar nunggu cukup lama, barang lama bisa tiba-tiba jadi tren lagi. Tapi ini bukan cuma gaya-gayaan doang. Earphone kabel juga punya alasan praktis yang cukup kuat, yaitu lebih murah, kagak bakalan hilang sebelah, nggak perlu baterai, dan latensinya rendah. Nggak semua yang baru otomatis lebih cocok. Kadang yang lama dipilih karena lebih sederhana, murah, dan nggak banyak gaya.
TWS juga praktis, tapi ada aja masalahnya
Harus diakui, TWS punya banyak keunggulan. Nggak ada kabel yang nyangkut, enak buat olahraga, enak buat naik kendaraan, enak buat meeting online, dan enak juga buat orang yang suka keliatan rapi tanpa kabel ngegantung di dada. Tapi di balik semua kepraktisan itu, ada masalah-masalah kecil yang bikin ganggu. Misalnya, baterai habis pas lagi di jalan, satu sisi nggak connect, delay pas nonton video, casing ketinggalan, earbud jatuh ke kolong mobil, atau yang paling nyesek, sebelah kanan hilang, sebelah kiri masih ada. Di titik ini earphone kabel terasa kayak solusi. Mungkin nggak terlihat futuristik, tapi pas dipakai, dia langsung bekerja. Buat sebagian orang, terutama yang cuma butuh dengar musik, podcast, voice note, atau nonton video, earphone kabel udah cukup. Ini yang bikin data warga Bapak2ID menarik. Pas 63% warga milih earphone kabel, kita bisa baca kalo banyak orang masih menghargai fungsi yang sederhana.
Earphone kabel lebih murah dan masuk akal secara ekonomi
Salah satu faktor besar yang nggak boleh dilupain adalah harga. TWS bagus biasanya nggak murah. Ada yang ratusan ribu sampe jutaan. Sementara earphone kabel bisa dibeli dengan harga jauh lebih ramah di kantong. Perbandingan harga antara earphone kabel dan wireless earbuds yang bisa sangat jauh ini, yang bikin headphones terasa lebih terjangkau buat banyak orang. Buat Gen Z, mahasiswa, pekerja, atau siapa pun yang masih punya prioritas keuangan lain, pilihan ini sangat masuk akal. Kenapa harus beli perangkat mahal kalau kebutuhan utamanya cuma ngedengerin lagu di perjalanan? Kenapa harus bayar lebih buat fitur yang nggak selalu dipakai? Earphone kabel punya nilai yang sederhana, murah, fungsional, dan nggak terlalu bikin panik kalau bermasalah. Ini bukan berarti murahan.
Adanya Digital Detox
Kembalinya earphone kabel juga bisa karena kelelahan digital. Banyak orang mulai capek sama perangkat yang semuanya harus terkoneksi. Semuanya wireless, smart, punya aplikasi sendiri. Earphone kabel terasa lebih analog dan nggak banyak campur tangan. Makanya earphone kabel ini jadi bagian dari simbol digital detox atau keinginan buat sedikit menjauh dari ketergantungan pada teknologi nirkabel yang mahal, glitchy, dan terlalu banyak distraksi. Tentu, pake earphone kabel bukan berarti kita bisa langsung hidup minimalis, tapi pilihan kecil ini bisa nunjukkin satu hal, orang mulai menghargai teknologi yang nggak terlalu menuntut.

Earphone kabel punya kualitas yang konsisten
Dari sisi teknis, earphone kabel juga punya keunggulan yang masih relevan karena terhubung langsung, biasanya punya latensi lebih rendah dibanding perangkat wireless. Buat orang yang sering main game, edit video, atau sensitif sama delay suara, earphone kabel bisa terasa lebih nyaman. Selain itu, earphone kabel nggak bergantung sama baterai, kualitas pemakaiannya nggak berubah hanya karena daya tinggal 10%. Nggak ada momen suara tiba-tiba putus juga karena koneksi Bluetooth terganggu. Nggak ada drama “connected” tapi suara tetap keluar dari speaker HP, yang bikin satu gerbong kereta denger video yang harusnya bersifat pribadi. Memang, kualitas suara tetap tergantung merek dan model. Nggak semua earphone kabel otomatis bagus dan nggak semua TWS otomatis jelek. Tapi secara pengalaman, earphone kabel ngasih rasa stabil yang disukai banyak orang.
Data 63% warga bapak2ID ngebuktiin kalo ini bukan tren anak muda doang
Yang bikin angle ini makin menarik adalah data warga bapak2ID yang 63% warga lebih pilih earphone kabel, berarti fenomena ini nggak cuma hidup di kalangan Gen Z yang ngejar estetika. Di komunitas yang lebih dewasa pun, earphone kabel masih punya tempat. Warga bapak2ID tahu betul bahwa barang kecil paling gampang hilang. Bapak juga tahu, makin banyak perangkat yang harus dicas, makin besar kemungkinan ada satu yang lupa. Dan bapak juga paham, kalau barang murah udah bisa ngejalanin tugasnya dengan baik, ya nggak perlu maksain beli yang mahal. Ada unsur nostalgia juga. Banyak warga yang tumbuh di masa earphone kabel adalah barang standar. Dulu beli HP, dapat charger dan earphone. Sekarang beli HP, kadang dapat kotaknya aja udah bersyukur. Jadi pas earphone kabel kembali populer, ada rasa “loh, ini mah dari dulu juga kita pakai.” Tapi bedanya, sekarang konteksnya berubah. Dulu earphone kabel dipakai karena belum ada pilihan. Sekarang earphone kabel dipilih karena dianggap lebih praktis, lebih murah, dan lebih sesuai dengan kebutuhan.
‘Open Table’ Tren Minum Jamu Bareng ala Gen Z yang Lagi Naik Daun
Pada akhirnya, earphone kabel bukan sekadar alat dengar, tapi juga jadi simbol kecil dari keinginan manusia modern biar punya hidup yang lebih sederhana. Di tengah dunia yang semuanya harus tersambung, ternyata masih banyak orang yang cuma pingin, colok, dengerin, beres.