Fenomena Ghosting dan bagaimana cara adik menghadapinya

Bacaan 3 menit

Adik-adik pasti pernah ngalamin di-ghosting entah itu dengan cemceman atau dengan teman adik sendiri. Ghosting adalah fenomena dimana cem-ceman atau seseorang yang adik kenal tiba-tiba memutus komunikasi dan menghilang seperti hantu. Hal ini bisa membuat adik kepikiran 7 hari 7 malam karena orang yang sering adik chat / hubungi tiba-tiba seperti menghilang ditelan bumi. Terus, bagaimana cara menghadapinya? Tenang, dik. Nih, bakal saya rangkumin buat adik.

Pertama, kita harus tau dulu kenapa dia (cemceman atau teman) meng-ghosting adik

Biasanya ada beberapa alasan kenapa seseorang melakukan ghosting,  tapi beberapa pakar dan psikolog setuju kalau seseorang yang meng-ghosting (ghoster) ini menghindari situasi yang tidak nyaman. Biasanya mereka merasa, ghosting adalah jalan terbaik untuk menangani ketidakmampuan/kesulitan mereka untuk berkomunikasi secara jelas. Mengacu dari beberapa artikel dan jurnal ilmiah, ghoster biasanya punya beberapa alasan kenapa mereka melakukan hal ini.

  • Kalo adik di-ghosting cemceman biasanya kemungkinan besarnya dia mengalami communication overload. Biasanya ghoster ini sedang fokus ke hal lain yang lebih penting dan prioritas baginya, contohnya : chat dari grup Keluarga atau chat dari kolega di kantor.
  • Kalo adik di-ghosting  sama temen sendiri biasanya kemungkinan besarnya dia sedang mengalami masalah kepercayaan diri atau menghadapi masalah yang berkaitan dengan kesehatan mental mereka, contohnya : Stress karena banyak deadline kerjaan, atau mungkin sakit hati sama bercandaan adik yang dia anggap itu serius.

Apa yang harus dilakukan setelah adik di-ghosting?

Ada beberapa hal yang bisa adik lakukan,

  1. Jangan menyalahkan diri sendiri. biasanya setelah di-ghosting adik akan merasa bingung, menyesal, mungkin malu dan jadi gak pede. Karena biasanya adik gabisa nyari akar masalahnya apa dan gaada penjelasan dari pihak ghoster. Ke depannya mungkin adik malah membuat tembok dengan orang-orang yang baru adik temui, karena takut tersakiti lagi di masa yang akan datang. Walaupun ghosting terasa personal, sebenernya ini bukan tentang adik. Tapi karena mereka sendiri (ghoster).

  2. Merenung dan evaluasi situasinya. Pertama, tarik nafas yang dalam dulu, dik. Sama coba merenung, "apa chat yang ku kirim ini menyakiti hati dia ya?" atau "apa dia lupa bales ya? mungkin chat ku ketimbun?". Balik lagi ketika adik tidak merasa bersalah, ya pasti salahnya dari pihak ghoster. "Terkadang kalo kita abis di-ghosting, itu karena si ghoster lagi fokus dengan hal lain atau lagi meng-isolasi diri mereka karena mereka merasa depresi. Ga semuanya harus tentang kita, jadi gausah langsung panik." ujar dr. Patrice N. Douglas, LMFT.

  3. Fokus dengan Self-care. Biasanya abis di-ghosting, hampir sebagian waktu adik habis buat mikirin dia dan insecurities adik, "dia kenapa?", "aku ada salah apa?", "apa mukaku jelek?", dan sebagainya. Habiskan waktu bersama teman dan keluarga yang bisa men-support adik. Adik juga bisa meluangkan waktu untuk hobi atau aktivitas yang bisa membuat adik bahagia. Ketika adik kepikiran si ghoster, coba camkan di pikiran adik, "kemungkinan besar ini bukan salahku, dia melanggar peraturan tidak tertulis untuk menjalin hubungan yang sehat dan mature."

  4. Relakan. Coba kontak si ghoster sekali lagi, tanya "ada masalah apa?" atau "aku ada salah ya?". Kalo si ghoster ga respon (ini jawabannya) atau dia respon dan minta maaf, tapi sama aja ke depannya masih suka ghosting. Mending move on aja, dik. Jangan maksain. Kalo seseorang emang serius ama adik, dia pasti nyempetin waktu buat ngechat/ngehubungin adik.

Memang rasanya di-ghosting itu tidak menyenangkan, tapi ghoster sendiri juga harusnya mengalami hal yang sama. Dan, satu lagi, buat ghoster yang mungkin baca artikel ini, nih ada pesan dari Pak Simon Sinek.

 

Ditulis oleh:
Jamal Robot
Bacaan 3 menit
Dilihat :
154

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait