Yang demen ngoleksi ikan atau punya akuarium di rumah, pasti kenal sama ikan sapu-sapu. Gak sedikit juga yang sengaja masukkin ikan sapu-sapu ini jadi ikan pembersih buat akuarium atau kolam yang ada di rumah. Tapi karena karakter ikan sapu-sapu ini cukup kuat, ikan sapu-sapu dianggap hama di banyak sungai atau danau Indonesia. Soalnya ikan sapu-sapu ini bukan penghuni asli dan kelakuannya kebablasan begitu masuk ekosistem perairan di Indonesia.
Kenapa ikan sapu-sapu dianggap hama di Indonesia?
Ikan sapu-sapu ini spesies asing dan invasif. Mayoritas ikan sapu-sapu yang bikin masalah di perairan umum itu masuk kelompok pleco atau sailfin catfish, umumnya genus Pterygoplichthys dari famili Loricariidae, yang asalnya dari Amerika Selatan yaitu wilayah Amazon dan sekitarnya. Pas dilepas ke sungai Indonesia, dia bisa jadi spesies invasif, berkembang cepat, nyebar luas, dan nekan ikan lokal. Apalagi ikan ini termasuk ikan yang tahan banting, levelnya udah dewa di sungai. Banyak lokasi yang bikin ikan sapu-sapu ini menang, alesannya karena ikan ini tahan sama kualitas air yang jelek dan minim oksigen, makanya sering betah di sungai tercemar. Selain itu juga ini ikan punya armor atau pelat keras yang bikin predator lokal susah ngemil. Makanannya fleksibel, mulai dari alga, sisa organik, sampai material di dasar perairan yang jadi sumber makanan mereka. Reproduksinya bikin ekosistem ngos-ngosan. Beberapa jenis Pterygoplichthys bikin liang atau sarang di tebing sungai. Ini bukan cuma soal beranak banyak, tapi juga bisa ngubah habitat asli tempat tersebut. Ada laporan yang nyorot aktivitas menggali sarang ini bisa memperparah kerusakan bantaran atau erosi di sungai.
Terus kenapa ikan sapu-sapu bisa nyasar ke Indonesia?
Kita tau kalo ikan sapu-sapu ini cukup familiar di kalangan pengkoleksi ikan, makanya gak sedikit pedagangan ikan hias yang ngejualin ikan sapu-sapu ini. Alhasil ikan sapu-sapu mulai banyak dipelihara di akuarium sebagai “pembersih kaca”, terus kalo ikan-ikan hias udah pada mati atau ternyata pemiliknya udah kelimpungan buat ngurus, biasanya ikan sapu-sapu ini dilepas atau dikasus lain bisa kabur pas banjir atau kolam meluap. Nah, ini yang bikin ikan sapu-sapu bisa masuk sungai dan jadi populasi liar di habitat barunya tersebut. Di kota besar, kasus kayak di sungai Ciliwung sering dikaitkan sama dua hal sekaligus, adanya pelepasan atau introduksi, dan kondisi sungai yang tercemar bikin ikan yang sensitif dan lemah malah rontok duluan, sementara sapu-sapu malah pesta pora.
Dampaknya kalau ikan sapu-sapu terus berkembang biak banyak
Tadi pan kalo sampe ikan sapu-sapu ini menyusup ke sungai-sungai yang ada di Indonesia, keanekaragaman ikan lokal bakal turun. Kalau satu spesies mendominasi, biasanya yang terjadi kompetisi ruang karena ikan sapu-sapu ini banyak yang hidup di dasar perairan. Bukan cuma itu doang, adanya kompetisi pakan dan kekhawatiran bakal gangguan ke telur atau larva ikan lain makin meningkat. Walopun sebenernya tergantung kondisi dan jenis ikan di habitat tersebut yak. Intinya, rantai makanan bisa berubah dan ikan lokal makin kepepet. Emang kalo ikan sapu-sapu ini ada di dasar sungai tetep bakal ngerusak? Habitat tetep rusak, ini yang bikin bantaran lebih gampang tergerus. Kebiasaan ikan sapu-sapu yang menggali liang di tebing sungai bisa bikin bantaran “kopong”,
mempercepat erosi, dan bahkan di area perkotaan bisa memperburuk risiko masalah pas debit naik. Bukan cuma itu doang, ini nelayan atau pemancing jadi ikutan tekor juga. Di beberapa lokasi, ikan sapu-sapu ini bikin hasil tangkapan “ketimpa” ikan yang nilai jualnya rendah, nyangkut di jaring/alat tangkap, dan ngegeser ikan konsumsi yang lebih bernilai. Gak ada ikan yang bisa dijual sama aja gak ada penghasilan yang bisa dibawa pulang ke rumah. Yang parahnya lagi, ikan sapu-sapu ini jadi “alarm” kualitas sungai yang buruk, dominasi sapu-sapu bisa jadi indikasi terganggunya ekosistem dan menurunnya keanekaragaman ikan lokal, serta sering muncul di kondisi perairan yang tercemar.
Terus gimana cara ngurangin populasinya?
Ini poin yang cukup penting, ngendaliin ikan invasif itu jarang bisa sampe hilang total, tapi bisa ditekan populasinya supaya ekosistem napas lagi. Mulai dari stop sumber masalah, misal denga gak ngelepas ikan sapu-sapu ini dari akuarium. Tapi ada juga yang paling efektif pencegahannya dengan ngeedukasi “jangan buang ikan hias ke sungai”, program penyerahan ikan hias (drop-off) ke komunitas/instansi, dan kontrol budidaya dan distribusi di area rawan. Bisa juga dengan penangkapan terarah (removal/harvesting), metode paling umum buat menekan populasi, yaitu dengan penangkapan rutin di titik padat, kegiatan “bersih-bersih sungai” yang memang memasukkan removal ikan invasif sebagai target, pemanfaatan hasil tangkap buat produk non-konsumsi (pakan, pupuk, dll) atau konsumsi dengan memperhatikan soal keamanan pangan yang harus bebas kontaminan/logam berat, dan lainnya.
Kalau sungai tetap kotor, yang “kuat” ya ikan sapu-sapu lagi. Jadi kontrol populasi bakal jauh lebih efektif kalau dibarengin pengurangan limbah, restorasi vegetasi bantaran, perbaikan aliran & habitat tempat ikan lokal bertelur. Jangan sampe perairan kita dijajah sama ikan sapu-sapu ini dah.