Surya Kencana Bogor dari Pecinan Tua sampai Jadi Spot Wisata Kuliner

Bacaan 4 menit

Kalau Bapak pernah ke Bogor tapi belum sempat main ke Surya Kencana, ibarat ke kondangan tapi gak nyobain prasmanannya. Rugi, Pak. Surya Kencana atau yang akrab disebut “Surken” ini, bukan cuma soal kuliner legendaris yang bikin bapak gak berhenti gayem. Di balik deretan ruko, klenteng, dan aroma asinan yang nyengat nikmat itu, ada sejarah panjang yang ngebentuk wajah Kota Bogor sampai hari ini.

Surya Kencana Bogor dan perubahan zaman 

Sebelum dikenal sebagai Surya Kencana, kawasan ini adalah wilayah Pecinan yang tumbuh sejak era kolonial Belanda. Letaknya strategis, dekat pusat pemerintahan Hindia Belanda di sekitar Kebun Raya dan Istana. Di abad ke-18 sampe ke-19, komunitas Tionghoa mulai tinggal dan berdagang di kawasan ini. Mereka buka toko kelontong, rumah makan, usaha bahan pokok, sampai penggilingan. Dari sinilah roda ekonomi lokal berputar. Salah satu saksi sejarahnya adalah Vihara Dhanagun (dulu dikenal Hok Tek Bio), yang udah ada dari abad ke-18. Klenteng ini bukan cuma tempat ibadah, tapi juga pusat aktivitas sosial warga Tionghoa di Bogor. Kalau Bapak berdiri di depan vihara dan ngeliat ke sekeliling, sebenarnya Bapak lagi berdiri di tengah sejarah ratusan tahun. Nama Surya Kencana sendiri baru dipake setelah masa kemerdekaan. Di era kolonial, kawasan ini dikenal dengan nama Handelstraat atau jalan perdagangan). Fungsinya jelas ya, sebagai pusat niaga. Setelah Indonesia merdeka, banyak nama jalan yang diganti buat hapus jejak kolonial. Handelstraat berubah jadi Jalan Surya Kencana. Nama yang lebih Indonesia banget, lebih hangat, dan lebih berasa kayak lagi di rumah. Transformasi nama ini bukan sekadar formalitas. Ini simbol kalau kawasan yang dulu dibentuk sama perdagangan kolonial, sekarang jadi bagian utuh dari identitas kota. Dan uniknya, walaupun zaman berubah, fungsinya tetap sama, masih jadi pusat ekonomi rakyat.

vihara

Foto: Gavin Goei

Kalau Bapak perhatiin, Surya Kencana ini cukup unik. Bangunannya bergaya Tionghoa klasik, tapi di sekitarnya ada masjid, gereja, dan rumah-rumah warga lokal. Ini bukan cuma soal arsitektur, tapi soal makna hidup berdampingan. Bogor emang kota yang punya sejarah keberagaman yang kuat. Surya Kencana jadi contoh nyata akulturasi budaya Sunda dan Tionghoa. Dari bahasa, makanan, sampai tradisi. Contohnya? Kuliner. Asinan Bogor yang terkenal itu lahir dari percampuran budaya. Teknik pengawetan dan bumbu khas Tionghoa berpadu sama selera lokal Sunda. Jadilah rasa yang seger, asem, pedes yang bisa bikin mata merem melek pas makannya. Ini yang bikin Surken bukan cuma tempat, tapi ruang pertemuan budaya.

14 Rekomendasi Bakso Favorit di Bogor yang Cocok Disamperin Bareng Keluarga

Perayaan agama dan budaya

Kalau Imlek itu pembukaan, maka Cap Go Meh adalah klimaksnya. Di Bogor, pusat denyut perayaan Cap Go Meh ada di Surya Kencana. Bukan cuma karena ini kawasan Pecinan tua, tapi karena di sinilah sejarah, budaya, dan rasa hidup berdampingan sejak ratusan tahun lalu udah kebangun lama. Dan tahun ini, ada yang spesial, Pak. Cap Go Meh berjalan berdampingan dengan bulan Ramadan. Dua momen besar, dua tradisi berbeda, tapi satu kota yang sama. Surya Kencana ini adalah jantung komunitas Tionghoa Bogor udah dari era kolonial. Di kawasan ini berdiri Vihara Dhanagun, salah satu vihara tertua di Bogor. Dari dulu, vihara ini jadi pusat ritual dan perayaan Imlek juga Cap Go Meh. Dari sinilah arak-arakan budaya biasanya dimulai atau dilewati. Surya Kencana bukan sekadar lokasi teknis. Ini simbol sejarah komunitas yang tumbuh, berdagang, dan ngebangun identitas kota Bogor bersama masyarakat lokal.

surya kencana bogor

Perayaan Cap Go Meh di Surya Kencana biasanya punya beberapa elemen utama, mulai dari sembahyang dan ritual di vihara yang yang ditujukkan umat buat memohon keselamatan, rezeki, dan keberkahan untuk satu tahun ke depan. Biasanya dekorasinya cukup meriah, ada lilin besar, dupa, dan suasana yang khusyuk. Ini bukan cuma festival, tapi momen spiritual. Ada juga arak-arakan budaya yang paling ditunggu warga. Barongsai, liong (naga panjang), tandu-tandu dewa, musik tradisional, sampai atraksi budaya berjalan nyusurin Surya Kencana ikut memeriahkan. Kadang juga ada partisipasi lintas komunitas, unsur budaya lokal ikut tampil. Ini yang bikin Cap Go Meh Bogor terasa inklusif, bukan eksklusif. Di momen kayak begini biasanya Surken berubah jadi lautan manusia. Bapak yang niat cuma beli laksa bisa tiba-tiba nyangkut nonton naga muter-muter di depan. Gak lengkap rasanya kalo Cap Go Meh gak ada kulinernya. Cap Go Meh juga identik sama makan bersama keluarga. Di Surya Kencana, suasana makin hidup karena kawasan ini emang pusat kuliner legendaris. Ada laksa, asinan, toge goreng, dan jajanan khas lain yang bikin suasana makin hangat. Nah ini yang menarik, Pak. Tahun ini, Cap Go Meh beriringan waktunya sama bulan Ramadan. Artinya, di satu sisi ada arak-arakan budaya dan perayaan Cap Go Meh. Di sisi lain, banyak warga yang sedang menjalankan ibadah puasa. Makanya, tema kali ini juga ngepaduin suasana Cap Go Meh dan juga bulan Ramadan sekaligus. Siang hari ada penampilan buat ngisi festival. Sore menjelang maghrib, tenant jajanan dan tempat-tempat makan mulai siap nyambut buka puasa bareng pengunjung di sana. Nah, pas malam hari, lampion nyala yang bikin suasana Cap Go Meh makin kerasa, dan penampilan Barongsai, juga arak-arakan dilakuin setelah sholat tarawih. Dua agama, beragam budaya, yang jadi ciri khas Surya Kencana sampai saat ini.

Dari pasar tradisional ke surga kuliner legendaris

Sekarang, Surya Kencana identik sama wisata kuliner. Bapak pasti pernah denger, Laksa Bogor, Toge goreng, Asinan, Soto mie, Cungkring, dan masih banyak lainnya. Tapi yang bikin spesial bukan cuma rasanya. Banyak dari usaha ini diwariskan turun-temurun. Ada yang udah berdiri puluhan bahkan hampir seratus tahun. Artinya Surken bukan cuma tempat orang jualan. Ini tempat keluarga mempertahankan warisan. Dari kakek ke bapak, dari bapak ke anak. Dan di era modern yang serba cepat, kawasan ini tetap hidup tanpa kehilangan jati diri. Bahkan sekarang udah banyak tempat makan, nongkrong, dan spot kuliner lain yang narik perhatian Gen Z. Bapak mau bawa anak, orang tua, atau ponakan juga masih seru dan gak bakal bosen karena banyak yang bisa dikunjungi.

Rekomendasi Tempat Makan di Bogor yang Kids Friendly

Yang jelas, Surya Kencana tetap jadi denyut nadi Kota Bogor. Dekat dengan Kebun Raya Bogor dan pusat kota, kawasan ini selalu jadi tempat singgah. Entah buat wisatawan, mahasiswa, atau bapak-bapak yang sekadar cari alasan ngopi bentar sebelum pulang. Bisa nih kuliner sekeluarga di mari.

Ditulis oleh:
Atun Gorgom
Bacaan 4 menit
Dilihat :
14

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait