Waktu kecil, banyak barang di rumah yang kelihatannya biasa aja. Ada, dipakai, rusak ya diganti. Kita sebagai anak cuma tahu fungsinya doang, kayak gorden buat nutup jendela, kasur buat tidur, cat tembok buat bikin rumah kelihatan bersih, buah buat dimakan setelah makan malam.
Tapi setelah dewasa, apalagi kalau udah mulai ngekos, ngontrak, nyicil rumah, atau mulai ngurus isi rumah sendiri, baru mulai sadar kalo hidup itu mahal bukan cuma karena cicilan. Tapi karena benda-benda yang dulu kita anggap “ya emang harus ada” ternyata harganya bisa bikin bulu kuduk merinding. Lucunya, barang-barang ini bukan barang mewah. Bukan jam tangan mahal, bukan kamera profesional, bukan kursi gaming yang bisa rebahan kayak pilot pesawat. Ini barang sehari-hari.
Gorden
Dulu waktu kecil, gorden cuma dianggap kain panjang yang tugasnya nutup jendela. Kalau siang dibuka, kalau malam ditutup. Kadang dipakai buat main petak umpet pas keluarga besar lagi kumpul. Tapi setelah dewasa, baru sadar kalau gorden bukan cuma kain. Ada ukuran, bahan, rel, ring, vitrase, blackout, semi blackout, ongkos jahit, ongkos pasang, dan hitungannya per meter. Gorden yang bagus bisa bikin rumah kelihatan rapi, adem, dan ciamik. Tapi harganya juga bisa sangat mahal. Untuk gorden blackout atau custom, harga bisa masuk jutaan tergantung ukuran jendela dan bahan. Beberapa contoh pemasangan curtain blackout bahkan kisaran Rp2 jutaan sampai Rp9 jutaan untuk proyek tertentu, tergantung ukuran dan komponen yang dipakai. Jadi kalau dulu adik mikir, “Ah cuma gorden,” setelah dewasa baru berasa kalo harga yang dikeluarin buat "cuma gorden" ini cukup ngerogoh banyak.
Cat Tembok
Cat tembok adalah salah satu jebakan terbesar dalam kehidupan dewasa. Dari jauh kelihatannya sederhana, tinggal beli cat, kuas, terus tembok jadi cakep. Padahal kenyataannya nggak sesederhana itu. Pertama, warna di katalog dan warna di tembok bisa beda jauh. Di katalog kelihatan “warm beige elegan,” pas ditempel di rumah malah jadi “kuning ruang UKS.” Kedua, ternyata cat nggak cukup satu kaleng kalau temboknya luas. Ketiga, belum termasuk plamir, amplas, kuas, roller, lakban, koran bekas, dan perintilan lainnya.
Tips Pilih Warna Cat Tembok biar Gak Beda Jauh sama Katalog
Harga cat tembok 5 kg pun bervariasi. Beberapa merek cat 5 kg ada di kisaran puluhan ribu sampai ratusan ribu rupiah, tergantung kualitas, merek, dan jenisnya. Masalahnya, satu rumah nggak bakal cukup pakai satu kaleng kecil. Baru satu kamar aja udah habis. Apalagi kalau mulai niat ngecat ruang tamu, kamar, dapur, pagar, dan bagian rumah yang tiba-tiba kelihatan kusam setelah bagian lain dicat. Akhirnya paham kenapa orang tua dulu kalau tembok rumah dicorat-coret bisa semarah itu. Ternyata emang mahal harganya.
Buah
Waktu kecil, buah di meja makan sering dianggap bonus. Pisang ada, jeruk ada, apel kadang ada, semangka tinggal potong. Kita tinggal makan. Bahkan kadang masih pilih-pilih, “Apelnya kurang manis,” atau “Aku maunya anggur.” Begitu dewasa dan belanja sendiri, baru sadar buah itu mahal. Apalagi kalau belinya bukan cuma pisang atau pepaya, tapi sudah masuk apel, pir, kiwi, anggur, stroberi, atau buah impor. Harga buah impor bisa lumayan bikin mikir. Apel Fuji premium misalnya bisa di kisaran Rp45.000–Rp65.000 per kg, jeruk santang madu sekitar Rp40.000–Rp60.000 per kg, sementara anggur Shine Muscat bisa jauh lebih tinggi, sekitar Rp120.000–Rp250.000 per kg tergantung kualitas dan asalnya. Makanya kalau ada orang tua dulu bilang, “Makan buahnya jangan dibuang-buang,” sekarang kalimat itu terdengar sangat masuk akal. Karena satu buah apel yang dulu digigit setengah lalu ditinggal, ternyata sekarang nilainya bisa setara ongkos parkir, kopi sachet seminggu, atau tambahan lauk warteg.
List Buah yang Langka Didapet, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Karpet
Karpet adalah barang yang dulu kelihatannya cuma alas. Tempat duduk, tempat tidur-tiduran, tempat anak main mobil-mobilan, tempat bapak selonjoran sambil nonton bola. Tapi pas udah dewasa, karpet keliatan kayak benda dekorasi yang harus dipikirkan matang-matang. Ukurannya harus pas, bahannya harus enak, motifnya jangan norak, warnanya harus cocok sama sofa, dan yang paling penting, gampang dibersihkan. Karpet murah memang ada. Tapi begitu mau yang tebal, empuk, nggak gampang geser, dan kelihatan layak masuk ruang tamu, harganya langsung bikin tahan napas. Karpet lantai per meter bisa ditemuin mulai puluhan ribu rupiah, sementara karpet ruang tamu ukuran besar dan bahan lebih bagus tentu bisa jauh lebih mahal tergantung merek, ukuran, dan materialnya. Jadi paham kenapa sebagian orang tua milih lantai kosong. Bukan karena nggak paham estetika, tapi karena harga karpetnya yang bikin mikir panjang.
Kasur
Kasur adalah barang yang dulu paling nggak kita hargai secara finansial. Waktu kecil, kasur ya tempat lompat-lompatan, tempat rebahan, atau tempat pura-pura tidur kalau disuruh mandi sore. Tapi begitu dewasa dan harus beli kasur sendiri, tiba-tiba kasur berubah jadi keputusan investasi. Ada kasur busa, spring bed, latex, memory foam, pocket spring, ukuran single, queen, king, dan istilah-istilah lain yang bikin beli kasur terasa kayak milih kendaraan keluarga. Harga kasur juga nggak main-main. Kasur busa single bisa mulai dari ratusan ribu, sementara spring bed ukuran lebih besar bisa masuk jutaan. Tapi mau gimana lagi, kasur itu pan dipakai tiap hari. Salah beli kasur bukan cuma rugi uang, tapi juga rugi di badan. Makanya, adik bakal makin ngerti kalo udah dewasa, kalo tidur nyenyak itu mahal.
Setelah dewasa, adik akhirnya akan paham kalo mahalnya hidup bukan cuma datang dari barang-barang besar. Kadang justru datang dari benda-benda yang selama ini jadi kebutuhan sehari-hari yang gak keliatan kalo sebenernya hal itu sangat dibutuhin.