Pak, ngerasa kagak kalo semakin bertambahnya usia, banyak hal yang ikutan berubah juga. Bahkan hampir semua pernah mengalaminya, salah satunya standar sukses yang sadar-nggak sadar berubah seiring usia. Bukan berubah karena gagal, bukan juga karena nyerah, tapi berubah karena hidup pelan-pelan ngajarin mana yang benar-benar penting, dan mana yang cuma kelihatan penting.
Waktu masih muda, sebuah kesuksesan walopun kecil rasanya harus kelihatan, harus bisa dipamerin, dan harus bisa dijelasin ke orang lain tanpa banyak kata. Kalau ditanya, "udah sejauh apa hidup bapak?”, jawabannya biasanya berupa angka dan status. Gaji berapa, jabatan apa, kerja di mana, punya apa. Semuanya serba konkret dan bisa dibandingkan. Di fase itu, bapak sering hidup dengan satu dorongan besar, yaitu membuktikan diri. Membuktikan ke orang tua kalo pilihan hidup yang dipilih benar. Membuktikan ke pasangan kalo bapak layak diandalkan. Membuktikan ke teman-teman kalo bapak nggak tertinggal. Bahkan sering kali, pembuktian kayak gitu ditujukan ke diri sendiri dengan meyakinkan diri kalo semua capek ini ada artinya. Makanya, lembur dianggap wajar. Pulang malam dianggap biasa. Waktu bersama keluarga sering ditukar dengan kalimat klasik, “nanti juga ada waktunya.” Badan masih kuat, pikiran masih sanggup dipaksa, dan ego masih cukup tebal buat nutup rasa capek. Di titik ini, sukses memang terasa seperti sesuatu yang harus dikejar secepat mungkin, sebelum kesempatan keburu habis.
Tapi usia nggak pernah berhenti berjalan. Dan seiring waktu, hidup mulai datang dengan suara yang lebih ramai. Bukan lagi suara notifikasi kantor atau grup kerja, tapi suara anak yang mulai bisa ngomong, suara obrolan bapak dan istri yang mulai jujur menyampaikan rasa capeknya, suara orang tua yang mulai sering sakit, dan suara tubuh sendiri yang pelan-pelan ikutan berubah. Begadang mulai kerasa mahal. Makan sembarangan mulai ada akibatnya. Stres yang dulu bisa ditahan, sekarang gampang bocor ke mana-mana. Di titik inilah banyak yang mulai berhenti sejenak, walopun secara nggak sadar.
Ada momen pas bapak bertanya dalam hati, “Kalau begini terus, ujungnya apa?” Bukan karena nggak sanggup juga, tapi karena mulai sadar kalo biaya dari definisi sukses versi lama ternyata besar sekali. Bukan cuma biaya duitnya aja, tapi biaya waktu yang nggak bisa diulang. Biaya momen yang terlewat, biaya kesehatan yang pelan-pelan kekuras, dan yang paling kerasa adalah biaya kehadiran. Hadir secara fisik mungkin iya, tapi hadir secara utuh sering kali agak susah.
Pelan-pelan, standar sukses mulai bergeser. Bukan lagi tentang seberapa tinggi naiknya karier, tapi seberapa stabil hidup bisa dijalani. Bukan lagi tentang seberapa sibuk jadwal, tapi seberapa tenang pikiran pas pulang ke rumah. Bukan lagi tentang diri sendiri, tapi tentang banyak orang yang kita sayang. Sekarang, sukses mulai diukur dari kondisi orang-orang yang bergantung sama bapak. Anak tumbuh sehat dan ngerasa aman. Pasangan ngerasa ditemani, bukan sekadar ditempatkan. Rumah kerasa hangat, bukan cuma jadi tempat tidur, dan diri sendiri masih punya ruang buat bernapas tanpa rasa bersalah. Di fase ini juga, hubungan bapak dengan uang ikut berubah. Uang tetap penting, sangat penting. Tapi fungsinya nggak lagi sebagai simbol keberhasilan, melainkan sebagai alat buat menciptakan rasa aman. Uang bukan lagi soal pamer, tapi soal cukup. Cukup buat hidup tenang, cukup buat menghadapi keadaan darurat, cukup buat punya pilihan saat harus ngomong nggak.
Kata "cukup" ini anehnya baru kerasa bermakna setelah bapak cukup lama hidup dalam kejar-kejaran dengan kata "lebih". Lebih tinggi, lebih banyak, lebih cepat, sampai akhirnya sadar kalo lebih nggak selalu berarti lebih bahagia. Di usia yang makin matang, tubuh juga mulai jadi penasehat yang paling manjur. Badan bapak nggak bisa lagi dibohongi sama kopi berlebihan dan janji-janji palsu ke diri sendiri. Badan bapak mulai ngomong lewat sendi yang mulai pegal, susah tidur, dan emosi yang gampang meledak. Dari sini, bapak mulai memahami bahwa bisa sehat itu juga bentuk sukses. Bisa bangun pagi tanpa rasa nyeri yang berlebihan, bisa kerja tanpa jantung berdebar karena stres, bisa tidur dengan pikiran yang relatif tenang, semua itu terasa seperti kemewahan.
Standar sukses pun jadi semakin personal, nggak lagi bisa diseragamkan. Ada orang yang ngerasa sukses karena bisa antar jemput anak setiap hari. Ada yang merasa sukses karena usahanya kecil tapi stabil. Ada yang merasa sukses karena akhirnya bisa libur tanpa rasa bersalah. Ada juga yang tetap mengejar karier tinggi, tapi dengan batas yang lebih jelas. Nggak ada yang lebih benar atau lebih salah, karena di usia ini, sukses bukan lagi perlombaan. Nggak ada garis finish yang sama, yang ada cuma keberlanjutan. Apakah hidup ini bisa dijalani dalam jangka panjang tanpa ngorbanin terlalu banyak hal yang nggak bisa dibeli kembali.
Teka-Teki Silang yang Bisa Diisi pas Lagi Mumet sama Kerjaan
Kalau dirangkum, perubahan standar sukses bapak sebenarnya sederhana. Dulu, sukses itu tentang terlihat hebat di mata orang lain. Sekarang, sukses lebih tentang terasa utuh di dalam diri. Dulu bangga karena sibuk, sekarang bangga karena seimbang. Dulu mengejar pengakuan, sekarang mengejar ketenangan. Kalau hari ini bapak ngerasa definisi suksesnya udah nggak sama kayak dulu, bukan tanda ada yang salah. Justru tanda kalo bapak lagi tumbuh. Hidup bapak lagi proses naik kelas. Dan kalau tercapai, cepat atau lambat, mungkin bapak udah lebih sukses dari yang bapak kira.
