Kalau bapak pernah main ke pantai selatan Jawa kayak ke Parangtritis, Pelabuhan Ratu, atau Pangandaran, biasanya selalu ada peringatan yang udah sering kita denger, mau dari warga lokal atau buah bibir orang-orang, yaitu “Jangan pake baju hijau. Nanti dipanggil Nyi Roro Kidul.” Orang-orang yang percaya sama mitos zaman dulu kebanyakan manut aja, tapi buat generasi sekarang yang melek sama teknologi dan internet, banyak orang nganggep ini cuma cerita mistis buat nakut-nakutin wisatawan. Tapi kalau ditarik lebih dalam, legenda Nyi Roro Kidul ternyata bukan sekadar cerita horor. Di balik mitos ini ada campuran sejarah kerajaan, kebudayaan Jawa, psikologi masyarakat, sampai fenomena sains di dalemnya.
Legenda Nyi Roro Kidul dipercaya udah ada dari abad ke-16, terutama di wilayah Jawa bagian selatan. Dalam banyak naskah Jawa kuno kayak Babad Tanah Jawi, Serat Kandha, Serat Centhini, Nyi Roro Kidul digambarkan sebagai Ratu Penguasa Laut Selatan. Di cerita paling populer, Nyi Roro Kidul sendiri punya hubungan spiritual sama raja-raja Jawa, terutama Panembahan Senopati (pendiri Mataram Islam). Menurut kisah di Babad Tanah Jawi, Panembahan Senopati pernah melakukan tapa brata di pantai selatan. Di situlah beliau bertemu sama Nyi Roro Kidul yang kemudian jadi sekutu spiritual kerajaan Mataram. Kalo di kosmologi Jawa, hubungan ini bukan hubungan romantis kayak sinetron, pak. Lebih ke konsep keseimbangan alam semesta. Dalam kepercayaan Jawa kuno, gunung punya makna dunia spiritual atas, keraton punya dunia manusia, dan laut selatan punya dunia kekuatan gaib. Ini disebut konsep kosmologi Jawa tiga dunia. Penelitian tentang kosmologi ini juga pernah dibahas di jurnal Journal of Southeast Asian Studies (Cambridge University Press). Artinya dari awal, cerita Nyi Roro Kidul emang bukan sekadar horor, tapi bagian dari sistem kepercayaan masyarakat Jawa.
Kalau bapak pernah lihat pantai selatan Jawa, pasti langsung sadar satu hal, ombaknya ganas banget. Ini juga ada sebabnya, terutama karena pantai selatan Jawa langsung menghadap Samudra Hindia, bukan laut yang tenang kayak Laut Jawa. Akibatnya, ombak di pantai selatan ini bisa sampe 4–7 meter. Arus bawah lautnya juga sangat kuat, banyak terjadi rip current atau arus balik. Fenomena rip current ini sering bikin orang yang berenang tiba-tiba keseret ke tengah laut. Fyi, pak, rip current ini penyebab 80% kecelakaan tenggelam di pantai. Masalahnya, masyarakat zaman dulu belum punya ilmu oceanografi. Jadi pas ada orang yang tiba-tiba keseret laut, mereka ngejelasin fenomena ini lewat cerita fiksi kayak Nyi Roro Kidul ini. Padahal secara sains, itu adalah arus balik laut yang sangat kuat. Legenda ini akhirnya berfungsi jadi sistem peringatan tradisional. Tujuannya sih sederhana dan cukup bagus yak, supaya orang gak sembarangan main ke laut selatan.
Jangan Bertamu ke Rumah Orang Jawa Sebelum Tau Tradisi USDEK
Larangan paling terkenal adalah jangan pakai baju hijau di pantai selatan. Banyak orang nganggep hal ini cuma mitos, tapi menariknya, ada penjelasan ilmiah yang cukup masuk akal. Warna laut pantai selatan pan cenderung hijau kebiruan, udah gitu gelap, dan ombaknya kuat bener. Kalo ada orang tenggelam dan pake baju warna hijau, badannya bakal jauh lebih susah terlihat sama tim penyelamat. Di penelitian tentang visibilitas warna di laut oleh Journal of Marine Safety and Environmental Research, warna yang paling susah terlihat di laut adalah hijau dan biru tua. Sementara warna yang paling mudah terlihat adalah oranye, merah, dan kuning terang. Jadi larangan baju hijau mungkin bukan sekadar mistis. Bisa jadi itu adalah cara tradisional masyarakat buat ningkatin keselamatan.
Foto: Kabupaten Bantul
Legenda ini makin kuat karena punya kaitan sama Keraton Yogyakarta. Sampai sekarang, keraton masih punya ritual tahunan bernama Labuhan Alit. Ritual ini dilakukan dengan cara melarung sesaji ke laut selatan. Biasanya di Parangkusumo. Tujuannya buat ngejaga harmoni antara manusia dan alam. Menurut penelitian antropologi oleh Mark R. Woodward, Arizona State University, ritual ini bukan penyembahan roh laut, tapi simbol hubungan spiritual antara kerajaan dan alam semesta. Sedangkan di tradisi Jawa, raja dianggap sebagai penjaga keseimbangan kosmos. Laut selatan adalah bagian dari keseimbangan tersebut. Dari sudut pandang psikologi, legenda kayak Nyi Roro Kidul punya fungsi penting, yaitu sebagai penjelasan fenomena alam, alat kontrol sosial, dan sistem pendidikan budaya. Artinya mitos bukan sekadar cerita, tapi alat masyarakat buat ngajarin sesuatu. Ini jadi bentuk early warning system sebelum ada ilmu kelautan.
T-tapi kenapa banyak orang yang ngaku ngeliat Nyi Roro Kidul? Nah, ini juga menarik dari sisi psikologi. Fenomena orang yang ngaku ngeliat sosok gaib sering dijelasin lewat konsep pareidolia. Pareidolia adalah kondisi pas otak manusia ngeliat pola atau sosok dalam sesuatu yang sebenarnya nggak ada, contohnya ngeliat wajah di awan, sosok di kabut, atau bayangan kayak manusia. Lingkungan pantai selatan yang berkabut, berangin, dan berombak besar, bisa memicu persepsi kayak gitu. Ditambah lagi dengan sugesti budaya dari kecil. Akhirnya pengalaman tersebut kerasa sangat nyata buat orang yang ngalaminnya.
Wisata-Wisata Alam yang Gak Jauh dari Jakarta buat Liburan Bareng Keluarga
Legenda Nyi Roro Kidul mungkin nggak bisa dibuktikan secara ilmiah sebagai sosok gaib. Tapi cerita ini jelas bukan sekadar dongeng kosong. Di dalamnya ada sejarah kerajaan Jawa, filosofi kosmologi, pengetahuan tentang bahaya laut, dan sistem peringatan tradisional masyarakat. Kalo dipikir-pikir, kadang emang sains dan cerita rakyat itu cuma beda cara ngejelasin hal yang sama.
