Rekomendasi Instrumen Investasi Sesuai Fase Sekolah Anak

Bacaan 4 menit

Salah satu momen yang sering bikin bapak tiba-tiba mikir keras adalah soal biaya sekolah anak. Pas anak masih bayi, semuanya keliatan santai. Masih mikirnya soal popok, susu, stroller, sama mainan bunyi-bunyian yang entah kenapa mahal banget. Tapi waktu anak mulai masuk sekolah, barulah bapak sadar satu hal, biaya pendidikan itu naiknya lebih cepat dari harga bensin. Menurut berbagai riset perencanaan keuangan di Indonesia, kenaikan biaya pendidikan bisa sampe 10–15% per tahun. Artinya, kalau hari ini uang masuk SD sekitar 20 juta, bisa jadi 10 tahun lagi udah 50 juta atau lebih. Makanya, banyak perencana keuangan selalu bilang hal yang sama, pendidikan anak itu bukan ditabung, tapi harus direncanakan dan diinvestasikan. Karena kalau cuma nabung biasa, uang bapak kalah sama inflasi. Supaya lebih gampang dipahami, kita bagi strategi investasi pendidikan anak berdasarkan fase sekolahnya.

Fase Bayi – TK (0–5 tahun)

Fokusnya di sini adalah investasi jangka panjang dan pertumbuhan. Di fase ini, bapak punya modal paling berharga, yaitu waktu. Anak masih kecil, jadi jarak menuju biaya pendidikan besar kayak SMP, SMA, bahkan kuliah masih panjang. Artinya bapak bisa manfaatin instrumen investasi yang punya potensi pertumbuhan lebih tinggi. Instrumen yang cocok di fase ini antara lain:

Saham atau Reksa Dana Saham

Saham sering bikin orang takut karena dianggap berisiko tinggi. Padahal kalau tujuannya jangka panjang, saham justru termasuk instrumen dengan potensi pertumbuhan paling tinggi. Secara historis, banyak pasar saham di dunia ngasih rata-rata return sekitar 8–12% per tahun dalam jangka panjang. Kalau bapak gak mau ribet pilih saham satu per satu, bapak bisa pilih reksa dana saham. Di sini uang bapak dikelola sama manajer investasi profesional. Kelebihan fase ini, waktu investasi masih panjang, fluktuasi pasar masih bisa ditoleransi, dan potensi keuntungan lebih besar. Misalnya bapak investasi Rp1 juta per bulan dari anak lahir. Kalau return rata-rata 10% per tahun, dalam 18 tahun bisa kekumpul sekitar Rp500–600 juta. Lumayan buat biaya kuliah nanti.

ETF atau indeks saham

Kalau bapak pengen investasi saham tapi lebih stabil, bisa juga pilih ETF indeks atau reksa dana indeks. Instrumen ini ngikutin pergerakan indeks kayak IHSG atau indeks saham besar. Risikonya relatif lebih terdiversifikasi dibanding beli satu saham. Intinya di fase ini kejar pertumbuhan dulu, karena waktu masih panjang.

Rekomendasi Instrumen Investasi Sesuai Fase Sekolah Anak

Fase SD (6–12 tahun)

Fokusnya ada di pertumbuhan plus stabilitas. Di fase ini, anak udah mulai sekolah beneran. Biasanya bapak mulai punya gambaran biaya pendidikan ke depan. Misalnya, biaya SMP, SMA, les, sampe kuliah. Waktu investasi masih cukup panjang, tapi udah gak sepanjang fase bayi. Jadi strategi yang disaranin biasanya mulai kombinasi antara agresif dan stabil. Instrumen yang cocok di fase ini:

Reksa Dana Campuran

Reksa dana campuran isinya kombinasi saham, obligasi, dan pasar uang. Tujuannya supaya risiko nggak terlalu besar, tapi potensi pertumbuhan tetap ada. Banyak keluarga Indonesia milih instrumen ini buat dana pendidikan karena pengelolaannya profesional, diversifikasi otomatis, dan relatif lebih stabil dibanding saham murni. Return historisnya biasanya berkisar 6–10% per tahun.

Emas

Emas juga sering dipakai sebagai instrumen penyimpan nilai jangka panjang. Banyak orang tua yang mungkin udah familiar sama konsep ini. Kalau ada uang lebih, beli emas sedikit-sedikit dah. Kelebihan emas sendiri adalah mudah dicairkan, relatif tahan inflasi, dan nilai cenderung naik dalam jangka panjang. Tapi perlu diingat kalo  emas itu lebih cocok buat ngejaga nilai uang, bukan buat pertumbuhan besar. Jadi idealnya tetap dikombinasikan sama instrumen lain.

Saham tetap boleh

Kalau bapak udah nyaman sama investasi saham, di fase ini masih boleh tetap lanjut. Cuma biasanya porsinya mulai dikurangi sedikit supaya risiko gak terlalu besar mendekati masa kebutuhan dana.

Strategi Finansial yang Tepat biar Anak Bapak Bisa Sekolah Tinggi Tanpa Bikin Dompet Berantakan

Fase SMP – SMA (13–17 tahun)

Fokus buat ngejaga dana. Di fase ini bapak udah mulai mendekati biaya pendidikan besar, terutama kalau anak rencananya mau kuliah. Artinya strategi investasi juga harus berubah. Kalau sebelumnya fokus pertumbuhan, sekarang mulai fokus melindungi uang yang udah terkumpul. Karena kalau tiba-tiba pasar saham turun drastis, dana pendidikan anak bisa ikut kegerus. Instrumen yang cocok di fase ini:

Obligasi

Obligasi adalah surat utang yang diterbitkan pemerintah atau perusahaan. Di Indonesia ada beberapa yang populer, kayak ORI (Obligasi Ritel Indonesia), SBR (Savings Bond Ritel), dan Sukuk Ritel. Kelebihannya sendiri adalah relatif aman, bunga tetap, dan dijamin pemerintah (buat obligasi negara). Return biasanya sekitar 5–7% per tahun. Nggak setinggi saham, tapi jauh lebih stabil.

Reksa Dana Pendapatan Tetap

Reksa dana jenis ini mayoritas berisi obligasi. Risikonya lebih rendah dibanding reksa dana saham. Instrumen ini cocok buat bapak yang ingin tetap investasi tapi nggak pingin terlalu banyak fluktuasi.

Deposito

Deposito sering dianggap instrumen paling aman. Walaupun return-nya nggak besar (sekitar 3–5% per tahun), tapi uang bapak relatif stabil. Di fase ini deposito sering dipakai sebagai tempat parkir dana pendidikan yang udah hampir dipakai.

Rekomendasi Instrumen Investasi Sesuai Fase Sekolah Anak

Fase Menjelang Kuliah

Fokusnya ada di likuiditas dan keamanan. Kalau anak udah kelas 12 SMA, biasanya bapak udah tahu kapan uang itu bakal dipakai. Mungkin tahun depan atau dua tahun lagi. Di fase ini strategi investasi harus sangat konservatif. Karena bapak nggak lagi ngejar keuntungan besar. Yang penting uangnya ada pas butuh. Instrumen yang cocok adalah:

Tabungan pendidikan

Tabungan biasa emang return-nya kecil, tapi sangat likuid. Bapak bisa ambil kapan saja.

Deposito jangka pendek

Deposito 3–6 bulan sering dipakai buat ngejaga dana sambil nunggu waktu pembayaran.

Reksa Dana Pasar Uang

Ini salah satu instrumen paling stabil. Return biasanya sekitar 4–6% per tahun, tapi fluktuasinya kecil. Banyak perencana keuangan nyaranin dana yang bakal dipakai dalam 1–2 tahun ke depan dipindahin ke pasar uang.

Perak VS Emas, Mana yang Cocok buat Investasi Jangka Panjang?

Ada beberapa kesalahan yang sering terjadi dalam perencanaan pendidikan anak. Mulai dari terlambat mulai investasi, cuma nabung biasa kagak dikhususin buat dana pendidikan, dan uang disimpen di satu instrumen. Kalo bingung mulai dari mana, bapak bisa mulai dari tentukan target biaya pendidikan, terus tentuin waktu kebutuhan dana, lalu pilih instrumen sesuai jangka waktu. Setelah itu baru dah investasi rutin setiap bulan. Mulai dari kecil, tapi harus mulai dari sekarang. Karena dalam urusan investasi pendidikan anak, waktu seringkali lebih berharga daripada jumlah uang yang bapak punya hari ini.

Ditulis oleh:
Atun Gorgom
Bacaan 4 menit
Dilihat :
15

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait