Kalau bapak duduk di coffee shop modern sekarang, entah itu di Jakarta, Bandung, atau BSD, hampir semua naro satu menu ini, yaitu cappuccino. Minuman kopi dengan foam susu tebal di atasnya, disajikan di cangkir keramik, biasanya dihias latte art bentuk daun atau hati. Rasanya sendiri creamy, agak pahit tapi lembut, dan sering dianggap sebagai ikon kopi Italia. Makanya kalau ada yang bilang cappuccino itu sebenarnya bukan berasal dari Italia, tapi dari Turki, banyak orang langsung bingung, “Lah kok bisa?” Padahal kalau kita tarik sejarahnya agak jauh, cerita cappuccino ini ternyata lebih panjang dari sekadar espresso dicampur susu. Ada jalur perdagangan, perang, bahkan hubungan antara kerajaan Islam dan Eropa yang ikut ngebentuk minuman ini.
Budaya Kopi Dunia, Aturan Gak Tertulis yang Bikin Ngopi Jadi Serius Banget
Sebelum orang Italia kenal cappuccino, sebelum orang Amerika kenal latte, bahkan sebelum Starbucks lahir, kopi udah lama jadi minuman penting di dunia Islam. Biji kopi pertama kali dibudidayakan di Yaman di abad ke-15, terus nyebar ke berbagai wilayah Ottoman, diantaranya Turki, Mesir, Suriah, dan Persia. Di Istanbul sendiri, kopi bahkan jadi bagian dari kehidupan sosial. Setelah itu muncullah yang disebut coffeehouse Ottoman, tempat orang kumpul buat ngobrol, diskusi politik, main catur, sampai baca puisi. Minuman yang mereka minum waktu itu disebut Turkish coffee, kopi yang digiling sangat halus, lalu dimasak langsung di air panas tanpa disaring. Cara penyajian kopinya emang harus kental, pahit, dan kuat. Dari sini perjalanan kopi mulai masuk ke Eropa. Kalo ngeliat sejarah kopi yang ditulis Mark Pendergrast di buku Uncommon Grounds: The History of Coffee and How It Transformed Our World, kopi mulai dikenal di Eropa sekitar abad ke-16 melalui jalur perdagangan Ottoman. Awalnya orang Eropa malah curiga. Ada yang bilang kopi itu “minuman orang Islam”. Bahkan pernah ada perdebatan di kalangan gereja apakah kopi harus dilarang atau nggak. Tapi begitu dicoba, ya udah jadi ketagihan.
Salah satu cerita paling terkenal tentang asal usul cappuccino terjadi pas Battle of Vienna tahun 1683. Saat itu Kekaisaran Ottoman ngepung kota Wina di Austria. Pas pasukan Ottoman mundur, mereka ninggalin banyak karung biji kopi. Awalnya orang Wina nggak tahu itu apa. Konon ada seorang penerjemah bernama Georg Franz Kolschitzky yang pernah tinggal di wilayah Ottoman dan kenal kopi. Dia kemudian buka salah satu coffeehouse pertama di Wina. Masalahnya, kopi Ottoman rasanya terlalu pahit buat lidah orang Eropa. Akhirnya kopi tersebut mulai dicampur sama susu dan gula supaya lebih ringan. Dari sinilah lahir minuman yang disebut Kapuziner. Kapuziner adalah kopi dengan susu dan krim yang warnanya mirip jubah biarawan Capuchin, yaitu biarawan Katolik dengan jubah coklat muda. Nama itulah yang kemudian berkembang jadi cappuccino. Penjelasan ini juga dibahas di penelitian sejarah kopi oleh William H. Ukers dalam buku klasik All About Coffee (1922).
Secara teknis, banyak sejarawan yang bilang kalo cappuccino modern emang berkembang di Italia di awal abad ke-20, setelah mesin espresso ditemuin. Tapi konsep minuman kopi yang dicampur susu buat melembutkan rasa kopi Ottoman udah muncul lebih dulu di wilayah Austria dan Turki. Kalo disimpulin, jalur sejarahnya kira-kira kayak gini, dari Ottoman atau Turki, terus nyebar ke Wina (Austria), baru ke Italia dan seluruh dunia. Nah, karena Italia ini menyempurnakan tekniknya pake espresso dan steam milk makanya lebih terkenal di sana, tapi akarnya tetap berasal dari budaya kopi Ottoman.
Cappuccino yang bapak kenal sekarang, dengan lapisan foam susu tebal, sebenarnya baru muncul setelah penemuan mesin espresso di Italia. Mesin espresso pertama kali dipatenkan sama Angelo Moriondo di tahun 1884, lalu disempurnain lagi sama Luigi Bezzera dan Desiderio Pavoni. Dengan mesin espresso, kopi bisa diseduh dengan tekanan tinggi jadi bikin kopi punya rasa yang kuat dan crema di atasnya. Barista Italia kemudian mulai campur espresso sama susu steam dan foam. Komposisinya biasanya, satu shot espresso, steamed milk, dan milk foam. Rasio klasik cappuccino adalah sekitar 1 : 1 : 1. Itulah yang akhirnya jadi standar cappuccino sampai sekarang.
Nama cappuccino sendiri asalnya dari kata Capuchin, yaitu ordo biarawan Katolik yang pake jubah coklat muda dengan tudung kepala. Warna kopi yang dicampur susu dianggap mirip sama warna jubah mereka. Makanya minuman ini disebut cappuccino. Nama cappuccino juga udah dipake di Wina dari abad ke-18 buat nyebut kopi dengan krim. Baru kemudian istilah ini diadopsi sama Italia pas espresso machine berkembang. Walaupun akarnya dari wilayah Ottoman dan Austria, Italia yang bikin cappuccino jadi budaya kopi modern. Di Italia, cappuccino punya aturan nggak tertulis. Biasanya orang Italia cuma minum cappuccino di pagi hari. Setelah makan siang, mereka lebih sering minum espresso aja, karena susu dianggap terlalu berat buat diminum setelah makan besar. Bahkan kalau bapak pesan cappuccino di Italia jam 3 sore, kadang baristanya bisa ngelirik dengan ekspresi, “Pak ini serius?”
Cappuccino mulai populer di luar Italia setelah Perang Dunia II. Mesin espresso makin canggih, perdagangan kopi meningkat, dan budaya kafe mulai berkembang. Lalu datanglah era Starbucks di tahun 1980-an, yang memperkenalkan cappuccino dan latte ke Amerika. Dari Amerika, kopi gaya Italia nyebar ke seluruh dunia. Sekarang cappuccino ada di mana-mana. Di coffee shop premium, kafe kecil pinggir jalan, bahkan di mesin kopi kantor. Padahal kalau ditarik sejarahnya, minuman ini punya jalur perjalanan lintas budaya selama lebih dari 500 tahun. Kalau dipikir-pikir, cappuccino ini sebenarnya contoh yang menarik tentang gimana makanan dan minuman berkembang. Bukan cuma itu, ada banyak penelitian juga yang ngebahas gimana kopi ngebentuk budaya sosial. Coffeehouse udah dari zaman Ottoman sampai Eropa jadi tempat penting buat diskusi politik dan intelektual. Di banyak kota, coffeehouse bahkan disebut sebagai “universitas rakyat” karena orang datang buat bertukar ide. Jadi sebenarnya kopi bukan cuma minuman, tapi juga jadi bagian dari sejarah peradaban manusia.
Macem-Macem Variasi Kopi, Biar Bapak Kaga Bingung Kalo Mau Mesen di Coffeeshop
Cappuccino yang bapak minum hari ini adalah hasil perjalanan budaya yang panjang. Dari pasar kopi di Yaman, coffeehouse di Istanbul, pengepungan kota Wina, sampai mesin espresso di Italia. Semua ikut berperan buat ngebentuk satu cangkir kopi yang sekarang dianggap biasa. Cappuccino juga bukan cuma kopi, tapi cerita soal perdagangan, perang, agama, teknologi, dan budaya yang saling bertemu. Dan mungkin itu juga alasan kenapa kopi terasa lebih nikmat ketika diminum sambil ngobrol. Karena dari dulu, kopi emang diciptakan bukan cuma buat diminum sendirian.
