Self Development   April 23, 2026

Apa yang Sebenarnya Terjadi di Kepala Orang yang “Sense of Urgent”-nya Rendah?

Atun Gorgom

Atun Gorgom

Bacaan 5 menit

Thumbnail

Pernah ketemu orang yang kalau dikasih deadline santai banget? Kerjaan numpuk, tapi responnya tetap nganggep gampang. Di sisi lain, ada orang yang baru dikasih tugas dikit langsung gerak cepat, bahkan sebelum diminta. Ini jadi perbedaan yang mencolok banget tentang gimana cara otak memproses prioritas, risiko, dan waktu. Sebenarnya apa yang terjadi di kepala orang yang sense of urgency-nya rendah?

Cara Ngebangun Reputasi di Tempat Kerja Tanpa Harus Cari Muka

Otaknya nggak nganggep adanya ancaman

Sebenernya, manusia cenderung bergerak cepat kalau merasa ada ancaman atau konsekuensi di depannya. Ini berkaitan sama sistem di otak yang disebut amygdala, yang berfungsi ngedeteksi bahaya. Masalahnya, buat orang yang sense of urgency-nya rendah, deadline atau tugas sering kali gak dianggap sebagai ancaman langsung. Temporal Motivation Theory (Steel, 2007) juga ngejelasin kalo motivasi seseorang meningkat pas deadline makin dekat dan mulai kerasa dikejar waktu. Artinya, selama deadline masih terasa jauh, otak cenderung santai. Jadi sebenernya bukan karena malas sepenuhnya, tapi karena otaknya belum nganggep hal tersebut penting.

Kejebak sama present bias

Apaan tuh, pak? Present bias ini adalah prinsip behavioral economics yang di mana ada orang yang lebih milih rasa nyaman pada saat ini daripada manfaat besar di masa depan. Misal, scrolling HP sekarang kerasa lebih enak, daripada harus ngerjain kerjaan yang punya effort gede. Nah, akhirnya otak milih yang lebih instan. Kita ngerencanain hal baik buat diri kita di masa depan, tapi pas besok tiba, preferensi kita berubah jadi "lebih enak tidur sekarang". Kita juga biasanya nilai reward yang diterima hari ini jauh lebih tinggi daripada reward yang sama kalo diterima besok. Makin deket sama waktu reward tersebut, nilainya melonjak drastis di otak kita.

urgency

Gak punya mental simulation yang kuat

Orang yang sense of urgency tinggi biasanya punya kemampuan buat ngebayangin konsekuensi secara jelas, misal kalau telat bakal dimarahin bos atau kalau gagal bakal kehilangan peluang. Nah, kebalikan sama orang yang sense of urgency rendah, gambaran masa depannya kabur, konsekuensinya kerasa jauh dan abstrak. Bahkan banyak orang nganggep diri mereka di masa depan sebagai orang asing atau "orang lain". Masalahnya, kalo gambaran masa depan kabur, otak bakal susah ngaitin tindakan nunda-nunda sama kerugian di masa depan. Bukan nggak mikir, tapi nggak kebayang dampaknya.

Ngerasa pasti bisa ngejar

Kita ni seringnya cenderung melebih-lebihkan kecepatan dan kemampuan diri sendiri buat nyelesain tugas, terutama kalo ngerasa tugas tersebut mudah atau pernah berhasil melakukannya di detik terakhir. Ini disebut planning fallacy, bias kognitif di mana orang meremehkan waktu yang dibutuhkan. Akibatnya pan kerjaan yang dilakuin jadi terburu-buru dan hampir selalu punya risiko kesalahan tinggi dan gak maksimal. Kalo terus-terusan, kita bisa panik di akhir deadline terus micu stres, kecemasan, dan kelelahan mental juga. Akibatnya ya ke reputasi kerja, walopun deadline kekejar, sering kali hasil kerja dianggap gak konsisten atau gak profesional sama tim atau atasan.

Gak pernah terbiasa di sistem yang bikin dia harus gerak cepat

Urgency itu bukan kayak bakat nyanyi atau bakat olahraga. Urgency ini justru kebentuk dari lingkungan kerja, pola hidup sehari-hari, dan kebiasaan yang diulang terus menerus dari dulu. Kalau dari awal kebiasaan hidupnya santai, deadline longgar, telat juga nggak ada konsekuensi, lama-lama kepalanya kebentuk satu pola buat ngeremehin kerjaan dia. Sebaliknya, kalau tiap hari hidup di lingkungan yang targetnya jelas, progres selalu dicek, dan ada tekanan pas ngerjainnya, mau nggak mau otak langsung nyetel otak biar "siaga". Jadi bukan soal orangnya rajin atau nggak, tapi dia kebiasaan hidup di sistem yang bikin dia harus gerak atau dikasih ruang buat santai.

sense of urgent rendah

Energi mentalnya udah habis duluan

Kadang kita terlalu cepat nge-judge orang lain dengan ngecap mereka males. Padahal bisa jadi orang tersebut mentally exhausted, orang yang kelelahan secara mental yang bikin susah fokus, susah buat mulai, atau cenderung nunda kerjaannya. Pas mental lelah, otak kehabisan sumber daya buat maksa diri ngelakuin tugas, jadi motivasi menurun drastis. Kalo diliat dari mata sebenernya kagak ada bedanya orang yang males sama yang mentally exhausted ini, tapi sebenernya dua-duanya beda. Orang yang males, punya energi fisik, tapi nggak punya keinginan buat melakukan sesuatu. Sedangkan orang yang capek mental, punya keinginan bahkan mungkin cemas karena tugas belum selesai, tapi energi kognitif/psikologisnya habis.

Gak punya "Why" yang kuat

Why ini ibaratnya adalah bahan bakar urgency. Urgensi yang tinggi nggak lahir dari tekanan luar kayak deadline yang mepet, tapi justru dari dorongan dalam diri. Tanpa alasan "why" yang kuat, tugas cuma dipandang jadi beban, bukan sarana buat capai tujuan personal. Kalau orang dengan urgency tinggi biasanya punya tujuan yang jelas, motivasi personal, dan alesan yang kuat. Sedangkan yang rendah urgency, kerja karena keharusan bukan karena keinginan. Tanpa alasan yang kuat, urgency nggak akan muncul.

57% Warga bapak2ID Setuju Kalo WFO Bikin Kerjaan Lebih Efektif, Apa di Lapangan Juga Sama?

Pasti kita semua pernah ada di posisi ini. Tapi masalahnya dunia kerja nggak nungguin kita siap. Bahkan orang yang biasa gerak cepat akan selalu kelihatan lebih rajin, walopun mungkin skill-nya sama.


Atun Gorgom

Atun Gorgom

Bacaan 5 menit

Dilihat : 23

Eits, sebelum komen, login dulu dong

I post fresh content every week.


Total 0 Komentar

Pergi ke pasar membeli ikan, Ikan segar dibungkus rapi. Bapak-bapak kalau bercandaan, Receh banget tapi happi